Materi 4
Landasan Psikologis
Pengembangan Kurikulum
Psikologi dapat diartikan sebagai
suatu ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungan dengan
lingkungan, pengertian sejenis menyebutkan bahwa psikologi merupakan suatu ilmu
yang berkaitan dengan proses mental, baik normal maupun abnormal dan
pengaruhnya pada perilaku, ilmu pengetahuan tentang gejala dan kegiatan
jiwa.
Psikologi merupakan salah satu
landasan dalam pengembangan kurikulum yang harus dipertimbangkan oleh para
pengembang. Hal ini dikarenakan posisi kurikulum dalam proses pendidikan
memegang peranan yang sentral. Dalam proses pendidikan terjadi interaksi antar
manusia, yaitu antara anak didik dengan pendidik, dan juga antara anak didik
dengan manusia-manusia lainnya. Manusia berbeda dengan makhluk lainnya karena
kondisi psikologisnya. Menurut Nana Syaodih Sukmadinata (2006 : 50)
“kondisi psikologis adalah kondisi karakteristik psikofisik manusia sebagai
individu, yang dinyatakan dalam berbagai bentuk perilaku dalam interaksinya
dengan lingkungan”. Perilaku-perilaku tersebut merupakan manifestasi dari
ciri-ciri kehidupannya, baik yang nampak maupun yang tidak nampak; baik
perilaku kognitif, afektif maupun psikomotor. Interaksi yang tercipta didalam situasi
pendidikan harus sesuai dengan kondisi psikologis dari anak didik dan pendidik.
Interaksi pendidikan di rumah berbeda dengan di sekolah. Interaksi antara anak
dengan guru pada tingkat sekolah dasar berbeda dengan pada tingkat sekolah
menengah pertama dan atas.
Aspek psikologis anak merupakan
salah satu yang harus menjadi perhatian dalam pengembangan kurikulum. Hal ini
karena kurikulum merupakan pedoman untuk mengantarkan anak didik sesuai dengan
harapan dan tujuan pendidikan. Sementara itu anak didik secara psikologis
memiliki keunikan dan perbedaan-perbedaan baik perbedaan minat, bakat, maupun
potensi yang dimilikinya sesuai dengan tahapan perkembangannya. Pemahaman
tentang anak sangat penting bagi pengembang kurikulum, karena kesalahan pesepsi
atau kedangkalan pemahaman tentang anak, dapat menyebabkan kesalahan arah dan
kesalahan praktik pendidikan.
Anak didik merupakan individu
yang sedang berada dalam proses perkembangan. Tugas utama guru adalah membantu
mengoptimalkan perkembangan peserta didik tersebut. Oleh karena itu, melalui
penerapan landasan psikologi dalam pengembangan kurikulum, tiada lain agar
upaya pendidikan yang dilakukan dapat menyesuaikan dengan hakikat peserta
didik. Penyesuaian yang dimaksud berkaitan dengan segi materi atau bahan yang
harus disampaikan, penyesuaian dari segi proses penyampaian atau
pembelajarannya, dan penyesuaian dari unsur-unsur upaya pendidikan lainnya.
Dengan menerapkan landasan
psikologi dalam proses pengembangan kurikulum diharapkan dapat diupayakan
pendidikan yang dilaksanakan relevan dengan hakikat peserta didik, baik
penyesuaian dari segi materi/bahan yang harus diberikan/dipelajari peserta
didik, maupun dari segi penyampaian dan proses belajar serta penyesuaian dari
unsur–unsur upaya pendidikan lainnya.
Pada dasarnya terdapat dua cabang
ilmu psikologi yang berkaitan erat dalam proses pengembangan kurikulum, yaitu psikologi perkembangan dan psikologi
belajar. Psikologi perkembangan
merupakan ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu berkenaan dengan perkembangannya.
Dalam psikologi perkembangan dikaji tentang hakekat perkembangan, pentahapan
perkembangan, aspek-aspek perkembangan, tugas-tugas perkembangan individu,
serta hal-hal lainnya yang berhubungan perkembangan individu, yang semuanya
dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan mendasari pengembangan kurikulum. Psikologi belajar merupakan ilmu yang
mempelajari tentang perilaku individu dalam konteks belajar. Psikologi belajar
mengkaji tentang hakekat belajar dan teori-teori belajar, serta berbagai aspek
perilaku individu lainnya dalam belajar, yang semuanya dapat dijadikan sebagai
bahan pertimbangan sekaligus mendasari pengembangan kurikulum.
Karakteristik perilaku tiap
individu pada tiap tingkat perkembangan merupakan kajian yang terdapat dalam
cabang psikologi perkembangan. Oleh sebab itu, dalam pengembangan
kurikulum yang senantiasa berhubungan dengan program pendidikan untuk
kepentingan peserta didik, maka landasan psikologi mutlak harus dijadikan dasar
dalam proses pengembangan kurikulum. Perkembangan yang dialami oleh peserta
didik pada umumnya diperoleh melalui proses belajar. Guru sebagai pendidik
harus mengupayakan cara/metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses
pembelajaran guna mendapatkan hasil yang optimal, dalam hal ini proses
pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam dengan memperhatikan
psikologi belajar.
Psikologi perkembangan diperlukan
terutama dalam hal penentuan isi kurikulum yang diberikan/dipelajari peserta
didik, baik tingkat kedalaman dan keluasan materi, tingkat kesulitan dan
kelayakannya serta manfaatnya yang disesuaikan dengan tahap dan tugas
perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan sumbangan terhadap
pengembangan kurikulum terutama berkenaan dengan bagaimana kurikulum itu
diberikan kepada peserta didik dan bagaimana peserta didik harus
mempelajarinya, berarti berkenaan dengan strategi pelaksanaan kurikulum.
Apa yang dididikkan dan bagaimana
cara mendidiknya perlu disesuaikan dengan tingkat dan pola-pola perkembangan
anak. Karakteristik perilaku pada berbagai tingkat serta pola-pola perkembangan
anak menjadi bagian dari psikologi perkembangan. Sementara itu, model-model
atau pendekatan pembelajaran mana yang dapat memberikan yang optimal, dan
bagaimana proses pelaksanaannya memerlukan studi yang sistematik dan mendalam.
Studi yang demikian merupakan bidang pengkajian dari psikologi belajar. Dengan
demikian, paling tidak ada dua bidang psikologi yang harus mendapat perhatian
para pengembang kurikulum, yakni psikologi perkembangan dan psikologi belajar.
Keduanya sangat diperlukan terutama di dalam proses pemilihan dan penyusunan
isi pendidikan serta proses mendidik atau mengajar. Hal ini dimaksudkan
agar anak didik dapat dilayani secara proporsional.
Landasan psikologis merupakan
aumsi – asumsi yang bersumber dari psikologi yang dijadikan titik tolak dalam
mengembangkan kurikulum. Ada dua jenis psikologi yang harus menjadi acuan yaitu
psikologi perkembangan dan psikologi belajar. psikologi perkembangan
mempelajari proses dan karakteristik perkembangan peserta didik sebagai subjek
pendidikan, sedangkan psikologi belajar mempelajari tingkah laku peserta didik
dalam situasi belajar.
Pengembangan kurikulum merupakan salah satu usaha
untuk mencapai tujuan pendidikanNasional. Pengembangan kurikulum dilaksanakan
karena Pengembangan kurikulummerupakan bagian yang sangat esensial dalam proses
pembelajaran. Karena dalam prosespembelajaran itu tedapat empat bagian penting
dalam kurikulum meliputi tujuan, isi ataumateri, strategi pembelajaran, dan
evaluasi. Keempat bagian tersebut saling berkaitan untukmencapai tujuan
pendidikan Nasional. Pengembangan kurikulum tidak dilaksanakan hanyasesuai
dengan kehendak seseorang atau suatu pihak, tetapi harus berpijak pada
landasan-landasan (filosofis, psikologis, sosiologis, dan IPTEK) dan
prinsip-prinsip (umum dankhusus) yang telah ada.Landasan psikologis dijadikan
salah satu aspek yang harus dipertimbangkan dalampengembangan kurikulum karena
pendidikan selalu mengandung nilai atau norma yangberlaku dalam masyarakat.
Nana Syaodih Sukmadinata pada tahun 1997 mengemukakanbahwa minimal terdapat dua
bidang psikologi yang mendasari pengembangan kurikulumyaitu psikologi
perkembangan (developmental psychology) dan psikologi belajar (psychologyof
learning). Keduanya sangat diperlukan, baik di dalam merumuskan tujuan, memilih
danmenyusun bahan ajar, memilih dan menerapkan metode perkembangan serta
teknik-teknikpenilaian. Pada dasarnya kedua landasan psikologi tersebut
sangat diperlukan dalampengebangan kurikulum yaitu pada langkah merumuskan
tujuan pembelajaran, menyeleksiserta mengorganisasi pengalaman belajar.
A.
Psikologi Perkembangan dalam Pengembangan
Kurikulum
Psikologi perkembangan membahas
perkembangan individu sejak masa konsepsi, yaitu masa pertemuan sel telur
dengan spermatosoid sampai dengan masa dewasa. Informasi tentang perkembangan
individu diperoleh melalui studi yang bersifat longitudinal, cross sectional,
psikoanalitik, sosiologik dan studi kasus. Individu apakah itu seorang anak
ataupun orang dewasa, merupakan kesatuan jasmani-rohani yang tidak dapat
dipisah-pisahkan, dan menunjukkan karakteristik-karakteristik tertentu yang
khas. Individu manusia adalah sesuatu yang sangat kompleks tetapi unik, yakni
memiliki banyak aspek seperti aspek jasmani, intelektual, sosial, emosional,
moral dan sebagainya, tetapi keseluruhannya membentuk satu kesatuan.
Anak sejak dilahirkan sudah
memperlihatkan keunikan–keunikan yang berbeda satu sama lainnya, seperti
pernyataan dirinya dalam bentuk tangisan dan gerakan–gerakan tubuhnya. Hal ini
menggambarkan bahwa sejak lahir anak telah memiliki potensi untuk berkembang.
Di dalam psikologi perkembangan terdapat banyak pandangan ahli berkenaan dengan
perkembangan individu pada tiap–tiap fase perkembangan.
Pandangan tentang anak sebagai
makhluk yang unik sangat berpengaruh terhadap pengembangan kurikulum
pendidikan. Setiap anak merupakan pribadi tersendiri, memiliki perbedaan di
samping persamaannya. Implikasi dari hal tersebut terhadap pengembangan
kurikulum, antara lain:
1)
Tiap anak diberi kesempatan untuk berkembang
sesuai dengan bakat, minat, dan kebutuhannya,
2)
Di samping disediakan pembelajaran yang bersifat
umum (program inti) yang harus dipelajari peserta didik di sekolah, disediakan
pula pembelajaran pilihan sesuai minat dan bakat anak,
3)
Kurikulum selain menyediakan bahan ajar yang
bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang bersifat akademik,
4)
Kurikulum memuat tujuan yang mengandung
pengetahuan, nilai/sikap, dan ketrampilan yang menggambarkan keseluruhan
pribadi yang utuh lahir dan bathin.
Implikasi terhadap pengembangan kurikulum menurut
Rudi Susilana dkk. yaitu:
1)
Setiap anak diberi kesempatan untuk berkembang
sesuai dengan bakat, minat dan kebutuhannya.
2)
Di samping disediakan pelajaran yang sifatnya umum
(Program inti) yang wajib dipelajari setiap anak di sekolah, disediakan pula
pelajaran pilihan yang sesuai dengan minat anak.
3)
Kurikulum di samping menyediakan bahan ajar yang
bersifat kejuruan juga menyediakan bahan ajar yang bersifat akademik. Bagi anak
yang berbakat dibidang akademik diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke
jenjang pendidikan selanjutnya.
4)
Kurikulum memuat tujuan–tujuan yang mengandung
pengetahuan, nilai atau sikap, dan keterampilan yang menggambarkan keseluruhan
pribadi yang utuh lahir dan bathin.
Implikasi lain dari pengetahuan tentang anak
terhadap pelaksanaan pembelajaran (actual curriculum) dapat diuraikan sebagai
berikut:
1)
Tujuan pembelajaran yang dirumuskan secara
operasional selalu berpusat pada perubahan tingkah laku peserta didik.
2)
Bahan atau materi yang diberikan harus sesuai
dengan kebutuhan, minat dan perhatian anak, bahan tersebut mudah diterima oleh
anak.
3)
Strategi belajar mengajar yang digunakan harus
sesuai dengan taraf perkembangan anak.
4)
Media yang dipakai senantiasa dapat menarik
perhatian dan minat anak.
5)
Sistem evaluasi berpadu dalam satu kesatuan yang
menyeluruh dan berkesinambungan dari satu tahap ke tahap yang lainnya dan
dijalankan secara terus menerus.
B. Psikologi
Belajar dalam Pengembangan kurikulum
Psikologi
belajar merupakan studi tentang bagaimana individu belajar. Secara sederhana
belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku yang terjadi melalui
pengalaman. Segala perubahan tingkah laku, baik yang berbentuk kognitif,
afektif maupun psikomotor yang terjadi karena proses pengalaman dapat
dikategorikan sebagai perilaku belajar. Menurut Gagne, perubahan tersebut
berkenaan dengan disposisi atau kapabilitas individu. Sementara itu, menurut
Hilgard dan Bower (1966) dinyatakan bahwa perubahan itu terjadi karena individu
berinteraksi dengan lingkungan, sebagai reaksi terhadap situasi yang
dihadapinya.
Mengetahui
tentang psikologi belajar merupakan bekal bagi para guru dalam menjalankan
tugas pokoknya, yaitu membelajarkan anak. Menurut
Morris L. Bigge dan Maurice P. Hunt (1980), psikologi atau teori belajar yang
berkembang pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam tiga rumpun, yaitu:
a. Teori
disiplin daya/disiplin mental (faculty theory)
Menurut
teori ini anak sejak dilahirkan memiliki potensi atau daya tertentu (faculties)
yang masing–masing memiliki fungsi tertentu, seperti potensi/daya mengingat,
daya berpikir, daya mencurahkan pendapat, daya mengamati, daya memecahkan
masalah, dan sejenisnya. Karena itu pengertian mengajar menurut teori ini
adalah melatih peserta didik dalam daya-daya itu, cara mempelajarinya pada
umumnya melalui hafalan dan latihan. Potensi–potensi tersebut dapat dilatih
agar dapat berfungsi secara optimal,daya berpikir anak sering dilatih dengan
pembelajaran berhitung misalnya, daya mengingat dilatih dengan menghapal
sesuatu. Daya yang telah terlatih dipindahkan ke dalam pembentukan lain.
Pemindahan (transfer) ini mutlak dilakukan melalui latihan (drill), karena itu
pengertian pembelajaran dalam konteks ini melatih anak didik dalam daya-daya
itu, cara pembelajaran pada umumnya melalui hafalan dan latihan-latihan
b.
Behaviorisme
Menurut
teori ini kehidupan tunduk pada hukum S – R (stimulus – respon) atau
aksi-reaksi. Menurut teori ini, pada dasarnya belajar merupakan hubungan respon
– stimulus. Belajar merupakan upaya untuk membentuk hubungan stimulus – respon
seoptimal mungkin. Tokoh utama teori ini yaitu Edward L. Thorndike yang
memunculkan tiga teori belajar yaitu, law of readiness, law of exercise, dan
law of effect. Menurut hukum kesiapan (readiness) hubungan antara stimulus
dengan respon akan terbentuk bila ada kesiapan pada system syaraf individu.
Hukum latihan/pengulangan (exercise/repetition) stimulus dan respon akan
terbentuk apabila sering dilatih atau diulang – ulang. Hukum akibat (effect)
menyatakan bahwa hubungan antara stimulus dan respon akan terjadi apabila ada
akibat yang menyenangkan.
Rumpun
teori Behavorisme mencakup tiga teori, yaitu teori Koneksionisme atau teori Asosiasi,
teori Kondisioning, dan teori Reinforcement (Operent Conditioning), Rumpun
teori Behaviorisme berangkat dari asumsi bahwa individu tidak membawa potensi
sejak lahir. Perkembangan individu dipengaruhi oleh lingkungan (keluarga,
lembaga pendidikan, masyarakat). Behaviorisme menganggap bahwa perkembangan
individu tidak muncul dari hal yang bersifat mental, perkembangan hanya
menyangkut hal yang bersifat nyata yang dapat dilihat dan diamati. Teori
Koneksionisme atau teori Asosiasi adalah teori tentang kehidupan yang tunduk
kepada hukum stimulus-respon atau aksi-reaksi. Belajar pada dasarnya merupakan
hubungan antara stimulus-respon. Belajar merupakan upaya untuk membentuk
hubungan stimulus-respon sebanyak-banyaknya.
c.
Organismic/Cognitive Gestalt Field
Menurut
teori ini keseluruhan lebih bermakna daripada bagian-bagian, keseluruhan bukan
kumpulan dari bagian-bagian. Manusia dianggap sebagai makhluk yang melakukan
hubungan timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan, hubungan ini
dijalin oleh stimulus dan respon. Stimulus yang hadir diseleksi menurut
tujuannya, kemudian individu melakukan interaksi dengannya terus-menerus
sehingga terjadi suatu proses pembelajaran. Dalam hal ini guru lebih berperan
sebagai pembimbing bukan sumber informasi sebagaimana diungkapkan dalam
pandangan koneksionisme, peserta didik lebih berperan dalam hal proses
pembelajaran, belajar berlangsung berdasarkan pengalaman yaitu kegiatan
interaksi antara individu dengan lingkungannya. Belajar menurut teori ini
bukanlah sebatas menghapal tetapi memecahkan masalah, dan metode belajar yang
dipakai adalah metode ilmiah dengan cara anak didik dihadapkan pada suatu
permasalahan yang cara penyelesaiannya diserahkan kepada masing-masing anak
didik yang pada akhirnya peserta didik dibimbing untuk mengambil suatu
kesimpulan bersama dari apa yang telah dipelajari.
Teori
Cognitive Gestalt Field atau organismik mengacu kepada pengertian bahwa
keseluruhan lebih bermakna dari pada bagian-bagian, keseluruhan bukan kumpulan
dari bagian-bagian. Manusia dianggap sebagai mahluk organisme yang melakukan
hubungan timbal balik dengan lingkungan secara keseluruhan, hubungan ini
dijalin oleh stimulus dan respon. Teori ini banyak mempengaruhi praktek
pengajaran di sekolah karena memiliki prinsip-prinsip sebagai berikut:
a) Belajar
berdasarkan keseluruhan
Dalam belajar siswa mempelajari
bahan pelajaran secara keseluruhan, bahan-bahan dirinci ke dalam bagian-bagian
itu kemudian dipelajari secara keseluruhan, dihubungkan satu dengan yang lain
secara terpadu. Prinsip ini mempunyai pandangan sebagaimana proses pembelajaran
terpadu. Pelajaran yang yang diberikan kepada peserta didik bersumber pada
suatu masalah atau pkok yang luas yang harus dipecahkan oleh peserta didik,
peserta didik mengolah bahan pembelajaran dengan reaksi seluruh pelajaran oleh
keseluruhan jiwanya.
b) Belajar
adalah pembentukan kepribadian
Anak dipandang sebagai makhluk
keseluruhan, anak dibimbing untuk memperoleh pengetahuan, sikap, dan
keterampilan secara berimbang. Ia dibina untuk menjadi manusia seutuhnya yaitu
manusia yang memiliki keseimbangan lahir dan batin antara pengetahuan dengan
sikapnya dan antara sikap dengan keterampilannya. Seluruh kepribadiannya
diharapkan utuh melalui program pembelajaran yang terpadu.
c) Belajar
berkat pemahaman
Menurut aliran Gestalt bahwa
belajar itu adalah proses pemahaman. Pemahaman mengandung makna penguasaan
pengetahuan, dapat menyelaraskan sikap dan ketrampilannya. Ketrampilan
menghubungkan bagian-bagian pengetahuan untuk diperoleh sesuatu kesimpulan
merupakan wujud pemahaman.
d) Belajar
berdasarkan pengalaman
Belajar itu adalah pengalaman.
Proses belajar itu adalah bekerja, mereaksi, memahami dan mengalami. Dalam
belajar itu siswa aktif. Siswa mengolah bahan pelajaran melalui diskusi, tanya
jawab, kerja kelompok, demonstrasi, survey lapangan, karyawisata atau belajar
membaca di perpustakaan dan sejenisnya.
e) Belajar
adalah suatu proses perkembangan
Ada tiga teori yang perlu
diketahui guru, yaitu: perkembangan anak merupakan hasil dari pembawaan, perkembangan
anak merupakan hasil lingkungan, dan perkembangan anak merupakan hasil
keduannya.
f) Belajar
adalah proses berkelanjutan
Belajar itu adalah proses
kegiatan interaksi antara dirinya dengan lingkungannya yang dilakukan dari
sejak lahir sampai menginggal, karena itu belajar merupakan proses
berkesinambungan. Manusia tidak pernah berhenti untuk belajar, hal ini
dilakukan karena faktor kebutuhan. Dalam pelaksanaannnya dianjurkan dalam
pengembangannya kurikulum tidak hanya terpaku pada proses pembelajaran yang ada
tetapi mengembangkan proses pembelajaran yang bersifat ekstra untuk memenuhi
kebutuhan peserta didik. Keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh
kemampuan anak didik tetapi menyangkut minat, perhatian, dan kebutuhannya.
Dalam kaitan ini motivasi sangat menentukan dan diperlukan.
Permasalahan :
1.
Menurut anda sebagai seorang
pendidik dengan menerapkan landasan psikologi, bagaimanakah mengupayakan
pendidikan yang dilaksanakan relevan dengan hakikat peserta didik, baik
penyesuaian dari segi materi/bahan yang harus diberikan/dipelajari peserta
didik, maupun dari segi penyampaian pada proses belajar ?
2.
Bagaimanakah keterkaitan antara psikologi
perkembangan dan psikologi belajar dengan 4 komponen kurikulum yang telah
dipelajari ?
3.
Karakteristik perilaku individu yang seperti
apakah yang diinginkan dalam psikologi perkembangan dan psikologi belajar ?
Terimakasih
atas kunjungannya 😊



saya akan menanggapi permasalahan nomor 3 mengenai Karakteristik perilaku individu yang seperti apa yang diinginkan dalam psikologi perkembangan dan psikologi belajar. menurut saya pada psikologi perkembangan membahas tentang bagaimana seorang anak berkembang sejak ia lahir dan dalam proses perkembangannya itu pastilah berbeda dengan orang lain nah karakteristik prilaku yang diharapkan yaitu siswa tidak malu atau minder untuk merasa berbeda dengan orang lain misalnya temannya karena perbedaannya itu merupakan keunikan dirinya, bila dari psikologi belajar berkaitan dengan proses pengalaman belajar seseorang makan karakteristik yang diharapkan yaitu dalam proses belajar tersebut pastilah akan ada terdapat kesalahan nah dari kesalahan ini lah siswa dapat belajar sehingga mengetahui mana yang seharusnya, dengan kesalahan tersebut juga diinginkan tidak membuat siswa merasa gagal dan tidak ingin mencoba lagi melainkan terpacu untuk dapat lebih baik kedepannya
BalasHapusMenurut saya upaya pendidik atau guru harus mengupayakan dengan menerapkan cara/metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yanh optimal. Dalam hal ini proses pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam. Dan strategi yg dingunakan harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Sehingga psikologi perkembangan dan psikologi belajar anak terwujud.
BalasHapussependapat dengan dian bahwa upaya pendidik atau guru harus mengupayakan penerapkan cara/metode yang lebih baik untuk melaksanakan proses pembelajaran guna mendapatkan hasil yanh optimal. Dalam hal ini proses pembelajaran mutlak diperlukan pemikiran yang mendalam. Dan strategi yg dingunakan harus sesuai dengan tahap perkembangan anak. Sehingga psikologi perkembangan dan psikologi belajar anak akan terpenuhi
Hapussaya akan menjawab pertanyaan 1 Menurut anda sebagai seorang pendidik dengan menerapkan landasan psikologi, bagaimanakah mengupayakan pendidikan yang dilaksanakan relevan dengan hakikat peserta didik, baik penyesuaian dari segi materi/bahan yang harus diberikan/dipelajari peserta didik, maupun dari segi penyampaian pada proses belajar ?
BalasHapuslandasan pskologi berarti harusmengetahui perkembangan peserta didik dan pskologi pendidikan. dari segi materi berati kita harus memiliki bebrapa rencana misal untuk anak yang memiliki tingkat kecerdasan diatas rata-rata kita memberikanny tugas pengayaan sambil menunggu teman yang lainnya paham
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusPsikologi perkembangan yaitu melihat sejauh mana pengetahuan yang dikuasainya sejauh ini
BalasHapusPsikologi Belajar yaitu Suasana saat itu saat murid belajar
Bila dikaitkan dengan keempat komponen belajar maka komponen belajar harus disesuaikan dengan landasan psikologi peserta didik baik perkembangan maupun psikologi belajar.
Saya sependapat dengan saudari rifanny, yaitu "Psikologi perkembangan yaitu melihat sejauh mana pengetahuan yang dikuasainya, sejauh ini
HapusPsikologi Belajar yaitu Suasana saat itu saat murid belajar,
Bila dikaitkan dengan keempat komponen belajar maka komponen belajar harus disesuaikan dengan landasan psikologi peserta didik baik perkembangan maupun psikologi belajar.
Karna disini ada penyesuaian tingkat perkembangan karakter anak itu di tahap yang mana.
saya setuju dengan Fanny karna dari psikologi perkembangan dan psikologi belajar inilah yang menjadi pedoman dalam kita untuk merencanakan rancangan pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum yang telah ada
BalasHapusmenjawab pertanyaan kaitan 4 komponen penting dalam kurikulum yaitu dalam tujuan disini guru harus mrumuskan tujuan pembelajaran secara operasional selalu berpusat pada perubahan tingkah laku anak didik. Karena tujuan inilah yg akan di wujudkan melalu 3 komponen berikutnya. Untuk isi atau materi pelajaran guru harus memberikan materi sesuai dengan kebutuhan minat dan perhatian anak, bahan tersebut mudah di terima oleh anak.
BalasHapusSaya akan menjawab permasalahan yang kedua yaitu kaitan 4 komponen dengan kurikulum, yaitu dimana 4 komponen ini sudah pasti harus ada dalam kurikulum, dan harus saling berkaikatan, misalkan satu materi, maka isi materi harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
BalasHapussaya akan menjawab pertanyaan no. 2 :
BalasHapusBagaimanakah keterkaitan antara psikologi perkembangan dan psikologi belajar dengan 4 komponen kurikulum yang telah dipelajari ?
Menurut pendapat saya keterkaitan antara psikologi perkembangan dan psikologi belajar dengan 4 komponen kurikulum sangatlah erat karena tujuan yang akan di wujudkan melalu 3 komponen berikutnya. Untuk isi atau materi pelajaran guru harus memberikan materi sesuai dengan kebutuhan minat dan perhatian anak, bahan tersebut mudah di terima oleh anak.
Karakteristik perilaku individu yang seperti apakah yang diinginkan dalam psikologi perkembangan dan psikologi belajar ?
BalasHapusmenurut saya karakter yang diinginkan dimiliki oleh siswa dari hasil proses pembelajaran yakni karakter yang dapat berkompetisi pada arus globalisasi dan revolusi industri 4.0 seperti yang saat ini terjadi, maka dari itu diharapkan siswa diajarkan berdasarkan kesiapan psikis, mental dan jasmaninya untuk mengikuti kegiataa pembelajaran sesuai dengan bagaimana psikologi belajar anak seusianya dengan demikian muara dari semuznya yakni ketercapaian tujuan pendidikan secara nasional.
menurut saya pada psikologi perkembangan membahas tentang bagaimana seorang anak berkembang sejak ia lahir dan dalam proses perkembangannya itu pastilah berbeda dengan orang lain nah karakteristik prilaku yang diharapkan.
BalasHapusSaya sependapat dengan saudari rifanny, yaitu "Psikologi perkembangan yaitu melihat sejauh mana pengetahuan yang dikuasainya, sejauh ini
BalasHapusPsikologi Belajar yaitu Suasana saat itu saat murid belajar. kesemuanya harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa. sejauh mana tahap perkembangan mental anak siap untuk mnerima materi tertentu.