Langsung ke konten utama
Materi 2
Komponen - Komponen Pokok Kurikulum

Fungsi kurikulum dalam proses pendidikan adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Maka hal ini berarti bahwa sebagai alat pendidikan kurikulum memiliki bagian-bagian penting dan penunjang yang dapat mendukung operasinya secara baik. Bagian-bagian ini disebut komponen. Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan memiliki komponen pokok dan komponen penunujang yang saling berkaitan, berinteraksi dalam rangka dukungannya untuk mencapai tujuan itu. Kurikulum adalah sebuah sistem, Sistem adalah suatu kesatuan sejumlah elemen (objek, manusia, kegiatan, informasi, dsb) yang terkait dalam proses atau struktur dan dianggap berfungsi sebagai satu kesatuan organisasai dalam mencapai satu tujuan. Jika pemahaman sistem diatas dipergunakan melihat kurikulum itu ada sejumlah komponen yang terkait dan berhubungan satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, dipandang sistem terhadap kurikulum, artinya kurikulum itu dipandang memiliki sejumlah komponen-komponen yang saling berhubungan, sebagai kesatuan yang bulat untuk mencapai tujuan.
Kurikulum memiliki empat komponen utama, yaitu : (1) tujuan; (2) isi/materi; (3) strategi/metode pembelajaran; dan (4) evaluasi. Keempat komponen tersebut memiliki keterkaitan yang erat dan tidak bisa dipisahkan.
Komponen-Komponen Kurikulum
1.  Komponen Tujuan
Komponen tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan dari pelaksanaan kurikulum. Dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Sedangkan dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan visi dan misi sekolah serta tujuan-tujuan yang lebih sempit.
Menurut Bloom dalam bukunya Taxonomy of Educational Objectives tahun 1995, bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat digolongkan ke dalam tiga klasifikasi atau tiga domain (bidang), yaitu:
a.  Domain Kognitif
Domain kognitf adalah tujuan pendidikan yang berhubungan dengan kemampuan intelektual atau kemampuan berpikir seperti kemampuan mengingat dan kemampuan memecahkan masalah. Domain kognitif terdiri dari enam tingkatan, yaitu:
1.     Pengetahuan (knowledge)
Pengeahuan adalah kemampuan mengingat dan kemampuan mengungkapkan kembali informasi yang sudah dipelajarinya (recall). Kemampuan bidang ini dapat berupa:
Pertama pengetahuan tentang sesuatu yang khusus, misalnya mengetahui tentang terminologi atau istilah-istilah yang dinyatakan dalam bentuk simbol-simbol terbentuk baik verbal maupun nonverbal. Pengetahuan mengingat fakta semacam ini sangat bermanfaat untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi.
Kedua pengatahuan tentang cara/prosedur atau cara suatu proses tertentu. Misalnya kemampuan untuk mengungkapkan suatu gagasan, mengurutkan langkah-langkah tertentu, dll.
2.    Pemahaman (comprehension)
Pemahaman adalah kemampuan untuk memahami suatu objek atau subjek pembelajaran. Pemahaman lebih tinggi tingkatannya dari pengetahuan. Pemahaman bukan hanya sekedar mengingat fakta, tetapi berkenaan dengan kemampuan menjelaskan,menerangkan,menafsirkan atau kemampuan menangkap makna atau arti suatu konsep. Pemahaman menafsirkan sesuatu contohnya menafsirkan grafik,bagan atau gambar. Sedangkan pemahaman ekstrapolasi yakni kemampuan untuk melihat dibalik yang tersirat atau tersurat,melanjutkan atau memprediksi sesuatu berdasarkan pola yang sudah ada.
3.    Penerapan (aplication)
Penerapan adalah kemampuan untuk menggunakan konsep,prinsip,prosedur pada situasi tertentu. Kemampuan menerapkan merupakan tujuan kognitif yang lebih tinggi tingkatannya dibandingkan pengetahuan dan pemahaman. Tujuan ini berhubungan dengan kemampuan mengaplikasikan suatu bahan pelajaran yang sudah dipelajari seperti teori, rumus-rumus, dalil, hukum, konsep, ide, dll ke dalam situasi baru yang konkret.
4.    Analisis
Analisis adalah kemempuan menguraikan atau memecah suatu bahan pelajaran ke dalam bagian-bagian atau unsur-unsur serta hubungan antar bagian bahan itu. Analisis berhubungan dengan kemampuan nalar. Oleh karena itu biasanya analisis diperutukkan bagi pencapaian tujuan pembelajaran untuk siswa-siswa tingkat atas.
5.    Sintesis
Sintesis adalah kemampuan untuk menghimpun bagian-bagian ke dalam suatu keseluruhan yang bermakna, seperti merumuskan tema,rencana atau melihat hubungan abstrak dari berbagai informasi yang tersedia. Sintesis merupakan kebalikan dari analisis. Kalau analisis mampu menguraikan.
6.    Evaluasi

Evaluasi adalah tujuan yang paling tinggi. Tujuan ini berkenaan dengan kemampuan membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan maksud atau kriteria tertentu. Terkandung pula kemampuan untuk memberikan suatu keputusan dengan berbagai pertimbangan dan ukuran-ukuran tertentu.

b.  Domain Afektif
Domain afektif berkenaan dengan sikap,nilai-nilai dan apresiasi. Menurut Krathwohl dan kawan-kawan (1964) dalam bukunya Taxonomy of Education Objectives: Affective Domain, domain afektif memiliki 3 tingkatan, yaitu:
1.     Penerimaan
Penerimaan adalah sikap kesadaran atau kepekaan seseorang  terhadap gejala,kondisi,keadaan atau suatu masalah. Seseorang memiliki perhatian yang positif terhadap gejala-gejala tertentu manakala mereka memiliki kesadaran tentang gelaja,kondisi atau objek yang ada.
2.    Merespons
Merespons atau menanggapi ditunjukkan oleh kemauan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan tertentu seperti kemauan untuk menyelesaikan tugas tepat waktu, kemauan untuk membantu orang lain dll. respons biasanya diawali dengan diam-diam,kemudian dilakukan dengan sungguh-sungguh.
3.    Menghargai
Tujuan ini berkenaan dengan kemauan untuk memberi penilaian atau kepercayaan kepada gejala atau suatu objek tertentu.
4.    Mengorganisasi
Hal ini berkenaan dengan pengembangan nilai ke dalam sistem organisasi tertentu, termasuk hubungan antarnilai dan tingkat prioritas nilai-nilai itu. Tujuan ini terdiri dari mengonseptualisasi nilai, serta mengorganisasi suatu sistem nilai.
5.    Karakerisasi Nilai
Tujuan ini adalah mengadakan sintesis dan internalisasi sistem nilai dengan pengkajian secara mendalam, sehingga nilai-nilai yang di bangunnya itu dijadikan pandangan (falsafah) hidup serta dijadikan pedoman dalam bertindak dan berprilaku.
c.   Domain Psikomotor
Domain psikomotor adalah tujuan yang berhubungan dengan kemampuan keterampilan atau skill seseorang. Berikut terdapat tujuh tingkatan yang termasuk ke dalam domain ini:
1.     Presepsi (preception)
Presepsi merupakan kemampuan seseorang dalam memandang sesuatu yang dipermasalahkan.
2.    Kesiapan (set)
Kesiapan berhubungan dengan kesediaan seseorang untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang direfleksikan dengan perilaku-perilaku khusus.
3.    Meniru (imitation)
Meniru adalah kemampuan seseorang dalam mempraktikkan gerakan-gerakan sesuai dengan contoh yang diamatinya.
4.    Membiasakan (habitual)
Membiasakan adalah kemampuan seseorang untuk mempraktikkan gerakan-gerakan tertentu tanpa harus melihat contoh.
5.    Menyesuaikan (adaptation)
Emenyesuaikan atau beradaptasi adalah gerakan atau kemampuan itu sudah disesuaikan dengan keadaan situasi dan kondisi yang ada.
6.    Menciptakan (organization)
Menciptkan atau mengorganisasikan, yakni kemampuan seseorang untuk berkreasi dan mencipta sendiri suatu karya.

Domain-domain tersebut diatas sangat bermanfaat didalam memilah tujuan menjadi beberapa bidang, yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Untuk tujuan tingkah laku, tidak cukup hanya sampai dengan pembidangan, tetapi harus juga menggunakan kata kerja operasional sesuai dengan tingkah laku yang diharapkan. Berikut ini akan dikemukakakn beberapa contoh kata kerja operasional sesuai dengan jenjang kemampuan pada setiap domain.
Tabel. Pemetaan Kata Kerja Operasional Domain Kognitif
No
Jenjang Kemampuan
Contoh Kata Kerja Operasional
1
Pengetahuan
Mendefinisikan, mecandra, mengidentifikasi, melabel, menjodohkan, menyebut (nama) menyatakan.
2
Pemahaman
Mengubah, memberi alasan, membedakan, menjelaskan, memberi contoh, menarik kesimpulan, meramalkan, menyimpulkan (dari gejala khusus keumum), menulis kembali (menyingkat) ekstra dan intrapolasi.
3
Aplikasi
Mengubah, menghitung, mendemostrasikan, menemukan, memanipulasi, memodifikasi, meramalkan
4
Analisis
Mengurai, menyatakan dalam bentuk diagram, membeda-bedakan, mengidentifikasi golongan, mengilustrasikan, menunjukkan titik berat (persoalan), mempertimbangkan
5
Sintesis
Mengategorikan, memadukan, menyarikan, mencipta, menjelaskan, merencanakan, merevisi, menceritakan, mengatur kembali, mendesain.
6
Evaluasi
Menilai, membandingkan, Menympulkan, mengkritik, membedakan secara mencolok, menjelaskan berdasarkan beberapa pertimbangan, memutuskan, menentukan, mencari hbungan, menerima atau menolak gagasan, mengambil dari isi

Tabel Pemetaan Kata Kerja Operasional Domain Afektif
No
Unsur Tujuan
Contoh Kata Kerja Operasional
1
-          Mendengarkan (menyimak) dengan tekun
-          Menunjukkan kesadaran pentingnya belajar
-          Menunjukkan kepekaan terhadap kebutuhan manusia dan masalah sosial
-          Menerima perbedaan kesukuan dan kebudayaan
Mengingat dengan gairah kegiatan kegiatan kelas
mengajukan pertanyaan, memilih, menjelaskan, memperhatikan, memberi dan menerima, menyebut nama, menunjukkan, menyeleksi menjawab pertanyaan.
2

mencari jawaban, menolong, menyetujui, mendiskusikan, memberi salam, menunjukkan (kegiatan), mempraktikan, hadir, melapor, menyeleksi, menceritakan.
3

mengundang, menerima keputusan, membagi rasa, kerja sama, ikut serta mengajukan usul, melaporkan, mempelajari, mengikuti.
4

Menambah, mengubah, mengatur, melengkapi, mempertahankan, menjelaskan, mengidentifikasi, menyintesis, menyiapkan, menghubungkan.
5

Bertindak, menunjukkan, membedakan, memodifikasi, mendengarkan, mengusulkan, bertanya, memperbaiki, melayani, menguji kebenaran, menggunakan.

2.  Komponen Isi/Materi Pelajaran
Isi kurikulum merupakan komponen yang berhubungan dengan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa. Isi kurikulum itu menyangkut semua aspek baik yang berhubungan dengan pengetahuan atau materi pelajaran yang biasanya tergambarkan pada isi setiap mata pelajaran yang diberian maupun aktivitas dan kegiatan siswa.
Untuk menentukan isi kurikulum tersebut harus disesuaikan dengan tingkat dan jenjang pendidikan, perkembangan yang terjadi dalam masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, disamping juga tidak terlepas dari kaitannya dengan kondisi peserta didik (psikologi anak) pada setiap jenjang pendidikan tersebut.
Kriteria pemilihan isi kurikulum dapat mempertimbangkan sebagai berikut:
1.     Sesuai tujuan yang ingin dicapai
2.    Sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik.
3.  Bermanfaat bagi peserta didik, masyarakat, bangsa dan negara baik untuk masa sekarang maupun masa yang akan datang.
4.    Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Materi kurikulum pada hakekatnya adalah isi kurikulum yang dikembangkan dan disusun dengan prinsip-prinsip sebagai berikut :
  1. Materi kurikulum berupa bahan pelajaran terdiri dari bahan kajian atau topik-topik pelajaran yang dapat dikaji oleh siswa dalam proses pembelajaran
  2. Mengacu pada pencapaian tujuan setiap satuan pelajaran
  3. Diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
3.  Komponen Metode/Strategi
Metode dan strategi merupakan komponen ketiga dalam pengembangan kurikulum. Komponen ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Bagaimana bagus dan idealnya tujuan yang harus dicapai tanpa strategi yang tepat untuk mencapainya, maka maka tujuan itu tidak mungkin dapat tercapai. Strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran.
Strategi pembelajaran dalam pelakasanaan suatu kurikulum adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Suatu strategi pembelajaran mengandung pengertian terlaksananya kegiatan guru dan kegiatan siswa dalam proses pembelajaran. Mutu proses itu banyak sekali bergantung pada kemampuan guru dalam menguasai dan mengaplikasikan teori-teori keilmuan pendidikan. Sedangkan Metode menempati fungsi penting dalam implementasi  kurikulum, karena memuat tugas-tugas yang perlu dikerjakan oleh siswa dan guru.
4.  Komponen Evaluasi
Evaluasi kurikulum memegang peranan penting dan merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kurikulum karena melalui evaluasi, dapat ditentukan nilai dan arti kurikulum sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan apakah suatu kurikulum perlu dipertahankan atau tidak, dan bagian – bagian mana yang harus disempurnakan.
Evaluasi secara etimologis berasal dari kata “evaluation” yang berarti “penilaian terhadap sesuatu”.  Dalam pengertian terbatas, evaluasi kurikulum dimaksudkan untuk memeriksa tingkat ketercapaian tujuan-tujuan pendidikan yang ingin diwujudkan melalui kurikulum yang bersangkutan. Sebagaimana dikemukakan oleh Wright bahwa : “curriculum evaluation may be defined as the estimation of growth and progress of students toward objectives or values of the curriculum” (Wright, 1966:173).
Evaluasi kurikulum juga bervariasi, bergantung pada dimensi-dimensi yang menjadi fokus evaluasi. Salah satu dimensi yang sering mendapat sorotan adalah dimensi kuantitas dan kualitas. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitaif berbeda dengan dimensi kualitatif. Instrumen yang digunakan untuk mengevaluasi dimensi kuantitatif, seperti tes standar, tes prestasi belajar, tes diagnostik dan lain-lain. Sedangkan, instrumen untuk mengevaluasi dimensi kualitatif dapat digunakan kuisioner, inventori, interview dan sebagainya.

Dari uraian yang telah disampaikan di atas, dapat ditemukan 3 permasalahan yaitu
1.     Pada komponen metode/strategi yaitu merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Bagaimana jika suatu sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas apakah berarti dapat dikatakan bahwa sekolah tersebut tidak terpenuhi komponen metode/strategi?
2.  Bagaimana kiat seorang guru untuk mengkondisikan siswa agar dapat fokus jika belajar pada akhir jam pelajaran terkhusus mata pelajaran kimia terlebih lagi jika sekolah tersebut letaknya disamping jalan raya ?
3. Apakah kurikulum sekolah umum sama dengan kurikulum sekolah madrasah, bagaimana dengan kedua kurikulum tersebut ?

Komentar

  1. saya akan menanggapi pertanyaan pertama , menurut saya ada beberapa fasilitas yang memang tidak bisa kita penuhi di beberapa daerah. walaupun kekurangan fasilitas, guru tetap harus memberikan semua yang ada pada dirinya untuk memajukan pendidikan di daerahnya baik metode maupun strategi dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jika fasilitas tidak memenuhi apakah bisa dikatakan bahwa sekolah tersebut tidak terpenuhi komponen metode/strategi nya?

      Hapus
    2. Menurut saya fasilitas merupakan salah satu penunjang tercapainya tujuan pembelajaran, jika fasilitasnya kurang belum tentu komponen metode/strateginya tidak terpenuhi, karena seorang pendidik dalam melaksanakan tugasnya ia mendesain pembelajaran (metode, strategi, pendekatan dll) sesuai dengan kemampuan/fasilitas yang dimiliki sekolah, yang tidak menurunkan efektifitas dari proses pembelajaran tersebut.

      sesuai juga dengan penjelasan yang ada di blog saudari "Strategi pembelajaran dalam pelakasanaan suatu kurikulum adalah cara yang digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Mutu proses itu banyak sekali bergantung pada kemampuan guru dalam menguasai dan mengaplikasikan teori-teori keilmuan pendidikan. Sedangkan Metode menempati fungsi penting dalam implementasi kurikulum, karena memuat tugas-tugas yang perlu dikerjakan oleh siswa dan guru", jadi fasilitas merupakan salah satu alat yang digunakan untuk membuat materi yang diajarkan lebih mudah diterima oleh siswa, jika tidak lengkap maka disinilah peran pendidik yang kreatif untuk mendesai pembelajaran dengan fasilitas seadanya/menggunakan alternatif yang bisa digunakan sebagai pengganti fasilitas yang kurang.

      Hapus
    3. Tapi tanpa adanya fasilitas apakah proses pembelajaran menjadi kaku atau dapat menjadi membosankan ?

      Hapus
    4. eeemm,, bisa kita perjelas dulu tidak fasilitas yang bagaimana yang dikhawatirkan dapat membuat proses pembelajaran menjadi kaku ?

      Hapus
    5. saya kan menjawabnya tidak, kita pasti pernah nonton laskar pelangi dimana disitu keterbatasan tempat dia menimba ilmu tidak membuat dia menjadi anak yang kaku, malah dia bisa menang disebuah kompetesi dengan sekolah yang memiliki fasilitas yang lengkap. balik lagi ke anaknya jika naknya kreatif maka dia bakal bisa sukses

      Hapus
    6. fasilitas yang dimaksud disini kan semua sarana dan prasarana yang menunjang selama proses belajar mengajar, nah apabila fasilitas tidak memadai tentu pembelajaran akan menjadi kaku/membosankan/monoton bukan ?

      Hapus
    7. oke baiklah untuk tanggapan kak tri benar untuk yang diluar sekolah bisa kita liat pada film laskar pelangi, mungkin yang saya maksud disini didalam sekolah. trimakasih kak tri

      Hapus
    8. saya sependapat dengan saudari tri, bahwa fasilitas jika tidak memadai tidak dapat di katakan mutlak bahwa salah satu komponen tidak terpenuhi. fasilitas hanya penunjang atau jembatan agar proses pembelajar lebih baik. balik lagi ke tujua awal jika seorang guru sudah membuat strategi dengan mencakup aspek2 komponen maka fasilitas pun dapat diciptakan sendiri oleh guru, jika guru tersebut benar-benar profesional. tidak dibenarkan jika tdk ada faisilitas dikatakan bahwa pembelajaran menjadi monoton atau kaku karena terkadang keadan sekolah yang minim fasilitas mahlah lebih mampu bersaiang diluar sana karena mereka dapat menhekplor dan berimajinasi sendiri dengan pembelajaran tersebut didukung dengan keterampilan-keterampilan guru dalam memaksimalkan fasilitas yang minim menjadi fasilitas yang berkarya dan dapat di bawa dalam proses pembelajaran berlangsung.

      Hapus
  2. saya akan mencoba menjawab pertanyaan no. 2 kiat guru agar siswa dapat tetap fokus belajar ditengah gangguan yang muncul yakni denganmengkondisikan siswa dengan baik sehingga fokus siswa tetap pada pembelajaran. cara lainnya yakni dengan memilih model pembelajaran yang terkesan santai contohnya dengan menggunakan model snowball throwing, jigsaw, atau dengan memberikan games yang relevan dengan materi pembelajaran sehingga siswa lebih termotivasi dan fokus dalam belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. apakah dengan mengkondisikan siswa dengan baik itu dapat meningkatkan tingkat kefokuskan siswa ? seperti masalah yang timbul saat ini kan minat dan motivasi siswa itu sangat rendah dalam proses belajar terkhusus dimata pelajaran kimia yang dianggap mereka pelajaran yang sulit

      Hapus
    2. iya menurut saya demikian, jika guru bisa mengkondisikan siswanya dengan baik, maka tingkat fokus siswa pun dapat lebih tinggi, nah untuk minat dan motivasi, itu bisa ditingkatkan melalui games, atau model pembelajaran yang lebih menyenangkan, misalnya pakai teka teki, dan lain sebagainya

      Hapus
    3. Saya setuju dengan pendapat kak rini, jika petanyaannya yang timbul kembali apakah dengan mengkondisikan siswa dengan baik itu dapat meningkatkan tingkat kefokuskan siswa ? jawaban saya Iya, karena dengan keadaan siswa yang sudah siap untuk belajar berarti siswa sudah dapat fokus dalam belajar. Disinilah peran guru sangat dituntut untuk mampu mengkondisikan kelas, guru bisa memberikan terus menerus stimulus kepada siswa sehingga siswapun mampu termotivasi, guru dapat mengaitkan materi yang dipelajari dengan kehidupannya sehari-hari sehingga siswa pun tidak jenuh, ia bisa melihat dan merasakan manfaat dari materi yang dipelajarinya. Pendapat siswa tentang pelajaran kimia itu sulitpun dapat sirna jika kita seorang guru mampu membuat pembelajaran yang menyenangkan.

      Hapus
    4. baiklah trimakasih untuk tanggapannya kak rini dan bang sugeng, jadi disini kembali lagi kepada guru nya itu sendiri bagaimana dia bisa menguasai kelas dan memberikan strategi,metode,teknik,taktik dan model pembelajaran yang cocok untuk mengkondisikan keadaan siswa tersebut agar dapat fokus kepelajaran yang diajarkan.

      Hapus
  3. Kurikulum merupakan program pendidikan bukan program pengajaran, yaitu program yang direncanakan , diprogramkan dan dirancangkan yang berisi berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar baik yang berasal dari waktu yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. Berbagai bahan tersebut direncanakan secara sistematik, artinya direncanakan dengan memperhatikan keterlibatan berbagai faktor pendidikan secara harmonis. Berbagai bahan ajar yang dirancang tersebut harus sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, GBHN, UU Sisdiknas, PP No.27 dan 30, adat istiadat dan sebagainya. Program tersebut akan dijadikan pedoman bagi tenaga pendidik maupun peserta didik dalam pelaksanaan proses pembelajaran agar dapat mencapai cita-cita yang diharapkan sesuai dengan tertera pada tujuan pendidikan.
    Jadi kurikulum madrasah ialah, suatu program pendidikan di madrasah yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalamn belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sitematik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijasikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidkan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
    Dalam UU Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 Bab I Pasal I disebutkan bahwa ”Kurikulum adalah seperangkat rencana dan peraturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
    Sejak Kurikulum Tahun 1984, Kurikulum Pendidikan Agama Islam baik di Sekolah Umum dan di Madrasah disederhanakan dengan tujuan memberikan keluwesan dalam pengembangan selanjutnya.
    Dari kedua bentuk kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum dan di Madrasah, ada memiliki persamaan dan perbedaan, secara eksistensi tujuan dan ruang lingkup adalah sama, namun karena keluasan materi yang didukung oleh alokasi waktu yang berbeda, maka pengembangan kurikulum itu akan mengalami perbedaan-perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing.
    Kedua kurikulum tersebut dari bentuknya adalah sama, dimana keduanya memberikan keluwesan bagi guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang menyangkut metode yang digunakan, evaluasi yang dilakukan, alat bantu yang dipakai, buku sumber dan pengembangan materi yang ditetapkan, sehingga tujuan yang dikehendaki bisa sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan masyarakat lokal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. apakah perbedaan dari kedua kurikulum itu hanya pada alokasi waktu saja ? dan seperti yang sudah dijelaskan ruang lingkup nya sama, apa contoh dari ruang lingkup kedua kurikulum tersebut ?

      Hapus
    2. Misalnya pada isi materi pelajaran. Dalam sekolah umum pelajaran seperti biasa yang kita tau. Dan di skolah mdrasah pun juga ada. Namun di dalam sekolah madrasah itu ada materi tambahaan sesuai dengan tujuan yg di capai misalnya seperti pelajaran fiqih akidah akhlah hadist tafsir ngaji dll. Dimana materi itu di rincikan atau di pisah agar siswa yg di madrasah lebih mempunyai akhlak. Bukan berati skolah umum tidak ada pelajaran itu. Sebenarnya ada namum tidak terperinci tapi mencakup dalam 1 materi yaitu kita kenal dengan pendidikan agama islam.

      Hapus
    3. iya saya setuju dengan pendapat dian dimana jika sekolah madrasah materi agama lebih diperincikan secara khusus lagi sedangkan pada sekolah umum tidak terperinci tapi mencakup dalam 1 materi yaitu kita kenal dengan pendidikan agama islam. trimakasih dian atas tanggapannya

      Hapus
  4. saya sependapat dengan rekan tri dan rini fajriani untuk pertanyaan pertama dan kedua. Bahwa sarana dan prasarana yang belum dapat terpenuhi dapat disiasati dengan kemampuan guru dalam memilih metode pembelajaran dengan model pembelajaran yang sesuai dan dapat dilaksanakan bagi peserta didik tersebut. hal ini juga aberkaitan dengan permasalahan kedua, seorang guru harus mampu mengatasi suasana seperti yang dipaparkan pada permasalahan kedua dengan mencari metode dan model pembelajaran yang tepat.
    Dan untuk pertanyan ketiga, pada dasarnya kerangka kurikulum sekolah itu hampir sama , baik sekolah umum, kejuruan maupun madrasah. yang membedakannya adalah pada kelompok mata pelajaran tambahan, dimana pada sekolah kejuruan melaksanakan mata pelajaran sesuai jenis kejuruannya dan madrasah melaksanakan mata pelajaran tambahan sesuai dengan kurikulum khusus/kurikulum madrasahnya sepertimata pelajaran : Tahfiz, aqidah dan lain sebagainya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagaimana dengan dipesantren? apakah pesantren menggunakan kurikulum juga ? apakah sama pesantren kurikulum nya dengan sekolah madrasah ?

      Hapus
    2. ada. di pesantren pun harus ada kurikulumnya. di pesantren itu ada kurikulum yang memuat mata pelajaran standar seperti K13 dan ada tambahan kurikulum islamnya seperti pelajaran tahfiz, aqidah dsb.

      Hapus
  5. Berdasarkan jawaban nomor 1, strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Otomatis apabila terdapat fasilitas yang kurang memadai maka betul seperti yang dikatakan tri maka guru harus memeberikan semua yang ada pada dirinya untuk memajukan pendidikan di daerahnya baik metode maupun strategi dalam proses pembelajaran. Untuk peralatan mengajar yang apabila tidak tersedia ICT maka bisa menggunakan alat peraga yang dibuat sendiri atau bisa langsung menggunakan studi kasus dengan sumber daya yang terdapat didaerah tsb

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seperti yang telah dijelaskan bahwa komponen-komponen kurikulum merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan untuk mencapai tujuan. metode ataupun strategi merupakan salah satu komponen dalam kurikulum, dengan keterbatasan tersebut apakah dapat mempengaruhi komponen kurikulum ?

      Hapus
    2. Ya tentu, komponen strategi, metode dan pendekatan ini merupakan komponen yang memiliki peran yang sangat penting, sebab berhubungan dengan implementasi kurikulum. Tapi kita bisa melakukan evaluasi untuk melihat apa yang harus dilakukan dan diperbaiki untuk pembelajaran yang lebih baik lagi

      Hapus
    3. iya saya setuju dengan kak fanny bahwa komponen metode dan strategi merupakan komponen yang meimiliki peran yang begitu penting. karna berhubungan dengan implementasi kurikulum. terimakasih kak fanny atas tanggapannya

      Hapus
  6. Menanggapi permasalahan yang no. 3 menurut saya kurikulum yang digunakan sama saja dengan sekolah umum. Hanya saja ada yang telah menerapkan K13 dan ada juga yang belum.
    Yang membedakan madrasyah dan sekolah umum diantaranya : madrasyah dibawah naungan kamenag (kementrian agama) dan sekolah umum dibawah naungan dinas pendidikan.
    Namun masih sama-sama instansi pendidikan

    BalasHapus
  7. Iya baik kalau masalah ada yang menggunakan k13 dan ada yang belum menggunakan k13. permasalahan nya disini apakah sama kurikulum sekolah madrasah dengan kurikulum sekolah umum sedangkan yang kita lihat jika sekolah umum misalnya mata pelajaran agama itu umum hanya agama saja sedangkan dimadrasah itu lebih dikhususkan lagi seperti aqidah akhlak, alquran hadits, dll. bagaimana tanggapan anda ?

    BalasHapus
  8. untuk pertanyaan 1, sudah pasti tidak memenuhi komponen yang ada dalam kurikulum, meskipun metode/strategi ini termasuk dalam komponen pokok yang harus ada di setiap sekolah bukan berarti jika komponen ini kurang bahkan hilang, kurikulum tidak dapat diterapkan. Tetapi komponen ini bisa di "akali" oleh guruagar pembelajaran terlaksana dengan semestinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya saya setuju dengan pendapat kak rina, menurut kak rina bagaimana cara guru dapat mengakali agar pembelajaran dapat terlaksana dengan semestinya walaupun ada komponen yang kurang ataupun hilang ?

      Hapus
  9. Saya akan mencoba menjawab permasalahan yang pertama,
    Menurut saya fasilitas adalah sarana prasarana, sarana prasarana merupakan salah satu penunjang tercapainya tujuan pembelajaran, seperti pendapat tata 2012 sarana prasarana adalah semua fasilitas yang secara langsung dipergunakan dan menunjang proses pendidikan,
    jika fasilitasnya kurang belum tentu komponen metode atau strateginya tidak terpenuhi, karena sarana prasarana hanya penunjang bukan termasuk poin komponen, tapi bagian dari komponen tersebut,
    Jadi contohnya seperti seorang guru sebelum mengajar harus menyiapkan metode pembelajaran dan strategi yang sesuai media sarana prasarana yang dimiliki sekolah.

    BalasHapus
  10. menanggapi permalsahan nomor 2, seblumnya saya akan menjelaskan terlebih dahulu tentang kurikulum kurikulum, Kurikulum merupakan program pendidikan bukan program pengajaran, yaitu program yang direncanakan , diprogramkan dan dirancangkan yang berisi berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar baik yang berasal dari waktu yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. Berbagai bahan tersebut direncanakan secara sistematik, artinya direncanakan dengan memperhatikan keterlibatan berbagai faktor pendidikan secara harmonis. Berbagai bahan ajar yang dirancang tersebut harus sesuai dengan Pancasila, UUD 1945, GBHN, UU Sisdiknas, PP No.27 dan 30, adat istiadat dan sebagainya. Program tersebut akan dijadikan pedoman bagi tenaga pendidik maupun peserta didik dalam pelaksanaan proses pembelajaran agar dapat mencapai cita-cita yang diharapkan sesuai dengan tertera pada tujuan pendidikan.
    Jadi kurikulum madrasah ialah, suatu program pendidikan di madrasah yang berisikan berbagai bahan ajar dan pengalamn belajar yang diprogramkan, direncanakan dan dirancangkan secara sitematik atas dasar norma-norma yang berlaku yang dijasikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi tenaga kependidkan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Kedua kurikulum tersebut dari bentuknya adalah sama, dimana keduanya memberikan keluwesan bagi guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang menyangkut metode yang digunakan, evaluasi yang dilakukan, alat bantu yang dipakai, buku sumber dan pengembangan materi yang ditetapkan, sehingga tujuan yang dikehendaki bisa sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan masyarakat lokal.

    BalasHapus
  11. Saya akan menjawab pertanyaan no.1 :
    Pada komponen metode/strategi yaitu merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Bagaimana jika suatu sekolah yang memiliki keterbatasan fasilitas apakah berarti dapat dikatakan bahwa sekolah tersebut tidak terpenuhi komponen metode/strategi?
    Menurut pendapat saya fasilitas seperti sarana prasarana merupakan salah satu penunjang tercapainya tujuan pembelajaran, strategi merujuk pada pendekatan dan metode serta peralatan mengajar yang digunakan dalam pengajaran. Apabila terdapat fasilitas yang kurang memadai maka guru harus memberikan semua yang ada pada dirinya untuk memajukan pendidikan di daerahnya baik metode maupun strategi dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus
  12. kurikulum merupakan program pendidikan yaitu program yang direncanakan , diprogramkan dan dirancangkan yang berisi berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar baik yang berasal dari waktu yang lalu, sekarang maupun yang akan datang. semakin kedepan kurikulum tentu akan semakin berkembang sesuia dengan kebutuhan dan perkembangan zaman. tentang kurikulum pada madrasah dan sekolah umum tentunya ada perbedaan. karena perbedaa tujuan dari masing-masing institusi. Dari kedua bentuk kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Umum dan di Madrasah, ada memiliki persamaan dan perbedaan, secara eksistensi tujuan dan ruang lingkup adalah sama, namun karena keluasan materi yang didukung oleh alokasi waktu yang berbeda, maka pengembangan kurikulum itu akan mengalami perbedaan-perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing.
    Kedua kurikulum tersebut dari bentuknya adalah sama, dimana keduanya memberikan keluwesan bagi guru untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang menyangkut metode yang digunakan, evaluasi yang dilakukan, alat bantu yang dipakai, buku sumber dan pengembangan materi yang ditetapkan, sehingga tujuan yang dikehendaki bisa sangat relevan dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan masyarakat lokal.

    BalasHapus

Posting Komentar