Langsung ke konten utama

Materi 3
Landasan Filosofis Pengembangan Kurikulum
“Landasan Aksiologi”
Aksiologi merupakan bagian ketiga dari kajian filsafat setelah ontologi dan epistomologi. Jika dalam kajian ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang akan ditelaah, pada kajian epistomologi berkaitan dengan bagaimana asal, sifat dan jenis pengetahuan, sedangkan aksiologi merupakan cabang filsafat yang memepertanyakan bagaimana manusia menggunakan dan memanfaatkan ilmunya.
Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu: axios yang berarti nilai. Sedangkan logos berarti teori/ ilmu. Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai. Jujun S.suriasumantri mengartikan aksiologi sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut John Sinclair, dalam lingkup kajian filsafat nilai merujuk pada pemikiran atau suatu sistem seperti politik, sosial dan agama. Sedangkan nilai itu sendiri adalah sesuatu yang berharga yang diidamkan oleh setiap insan.
Aksioloagi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan dijalan yang baik pula karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan dijalan yang tidak benar. Aksiologi mempelajari mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan, menyelidiki hakikat nilai, serta berisi mengenai etika dan estetika. Penerapan aksiologi dalam pendidikan misalnya saja adalah dengan adanya mata pelajaran ilmu sosial dan kewarganegaraan yang mengajarkan bagaimanakah etika atau sikap yang baik itu,selain itu adalah mata pelajaran kesenian yang mengajarkan mengenai estetika atau keindahan dari sebuah karya manusia.  Dasar Aksiologis Pendidikan adalah Kemanfaatan teori pendidikan tidak hanya perlu sebagai ilmu yang otonom tetapi juga diperlukan untuk memberikan dasar yang sebaik-baiknya bagi pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia secara beradab. Dalam ruang aksiologi, filsafat pendidikan akan mengulas makna keberadaan pendidikan dalam ruang kehidupan. Filsafat pendidikan akan mempersoalkan faliditasi organisasi umum yang menyatakan bahwa pendidikan adalah sesuatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Nilai dan implikasi aksiologi di dalam pendidikan ialah pendidikan menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut didalam kehidupan manusia dan membinanya didalam kepribadian anak. Karena  untuk mengatakan sesuatu bernilai baik itu bukanlah hal yang mudah apalagi menilai secara mendalam dalam arti untuk membina kepribadian ideal.
Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat, sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malah menimbulkan bencana. Dalam aksiologi ada dua penilaian yang umum digunakan yaitu:
1.     Etika
Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada perilkau, norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah satu cabang filsafat tertua. Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa sokrates dan para kaum shopis.disitu dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagainya. Etika sendiri dalam buku etika dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suzeno diartikan sebagai pemikiran kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan diatas adalah norma adat, wejangan dan adatistiadat manusia. Berbeda dengan norma itu sendiri etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.
Di dalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggungjawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap Tuhan sebagai sang pencipta. Dalam perkembangan sejarah etika ada 4 teori etika sebagai sistem filsafat moral yaitu hedonism, eudemonisme, utiliterisme dan deontologi. Hedoisme adalah pandangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan moral dengan kesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan. Dan adapun tujuan dari amnesia itu sendiri adalah kebahagiaan.
Selanjutnya utilitarisme yang berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-perintah illahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati. Selanjutnya deontologi adalah pemikiran tentang moral yang diciptakan oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, yang bisa disebut baik secara terbatas atau dengan syarat. Misalnya kekayaan manusia apabila digunakan dengan baik oleh kehendak manusia.
2.    Estetika
Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian.
Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu kulaitas objek, melainkan sesuatu yang senantiasa bersangkutan dengan perasaan. Misalnya kita bangun pagi, matahari memancarkan sinarnya kita merasa sehat dan secara umum kita merasakn kenikmatan. Meskipun sesungguhnya pagi itu sendiri tidak indah tetapi kita mengalaminya dengan perasaan nikmat. Dalam hal ini orang cenderung mengalihkan perasaan tadi menjadi sifat objek itu, artinya memandang keindahan sebagai sifat objek yang kita serap. Padahal sebenarnya tetap merupakan perasaan.
Kurikulum 2013 di kaji dengan Kajian Aksiologi yaitu terletak pada manfaat yang akan dicapai bila kurikulum 2013 ini di luncurkan. Adapun manfaat dari pembelajaran tematik terpadu adalah sebagai berikut:
a)    Suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan;
b)   Menggunakan kelompok kerja sama, kolaborasi, kelompok belajar, dan strategi pemecahan konflik yang mendorong peserta didik untuk memecahkan masalah;
c)    Mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci kelas yang ramah otak (brain-friendly classroom);
d)   Peserta didik secara cepat dan tepat waktu mampu memproses informasi. Proses itu tidak hanya menyentuh dimensi kuantitas dan kualitas mengeksplorasi konsep-konsep baru dan membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan secara siap;
e)   Proses pembelajaran di kelas mendorong peserta didik berada dalam format ramah otak;
f)    Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diaplikasikan langsung oleh peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari;
g)   Peserta didik yang relatif mengalami keterlambatan untuk menuntaskan program belajar dapat dibantu oleh guru dengan cara memberikan bimbingan khusus dan menerapkan prinsip belajar tuntas;
h)   Program pembelajaran yang bersifat ramah otak memungkinkan guru untuk mewujudkan ketuntasan belajar dengan menerapkan variasi cara penilaian.

Aksiologi berkenaan dengan nilai guna ilmu, baik itu ilmu umum maupun ilmu agama, tak dapat dibantak lagi bahwa kedua ilmu itu sangat bermanfaat bagi seluruh umat manusia, dengan ilmu seseorang dapat mengubah wajah dunia. Berkaitan dengan hal ini, menurut Francis Bacon seperti yang dikutip oleh Jujun S. suriasumantri yaitu bahwa “pengetahuan adalah kekuasaan” apakah kekuasaan itu merupakan berkat atau justru  malapetaka bagi umat manusia. Memang kalaupun terjadi malapetaka yang disebabkan oleh ilmu, bahwa kita tidak bissa mengatakan bahwa itu merupakan kesalahan ilmu, karena itu sendiri ilmu merupakan alat bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidupnya, lagipula ilmu memiliki sifat netral, ilmu tidak mengenal baik ataupun buruk melainkan tergantung pada pemilik dalam menggunakannya. Nilai kegunaan ilmu untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal yaitu:
1.     Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami mereaksi dunia pemikiran.
Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi atau sistem politik, maka sebaiknya mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari teori-teori filsafat ilmu.
2.    Filsafat sebagai pandangan hidup.
Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenarannya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.
3.    Filsafat sebagi metodologi dalam memecahkan masalah
Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Bila ada batu di depan  pintu, setiap keluar dari pintu itu kaki kita tersandung, maka batu itu masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah-masalah itu dapat diselesaikan. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari cara yang sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang diguna amat sederhana maka biasanya masalah tidak terselessaikan secara tuntas. Penyelesaian secara detail itu biasanya dapat mengungkap semua masalah yang berkembang dalam kehidupan manusia.
Nilai itu bersifat objektif tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakuakn penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam member penilaian, kesadaran manusia menjadi tolak ukur penialian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.
Permasalahan :
1.     Seseorang memiliki ilmu mengetahui teori nya namun belum mengaplikasikan ilmunya itu sendiri, misalnya seorang guru yang paham mengenai RPP namun masih banyak diantara mereka yang belum mengaplikasikannya. Mereka jarang sekali mengajar menggunakan RPP, RPP hanya sekedar formalitas tanpa dipraktekkan, Bagaimana menurut tanggapan anda mengenai hal tersebut ?
2.     Terkait dengan landasan aksiologi yang merupakan bagian dari landasan filosofis, bagaimanakah keterkaitan antara landasan aksiologis terhadap kurikulum 2013 ?
3.     Dalam proses pengembangan kurikulum, apakah landasan aksiologi selalu digunakan/diterapkan apa contohnya?

Komentar

  1. untuk pertanyaan pertama, guru harus di evaluasi sampai guru tsb terbiasa untuk menggunakan RPP.
    untuk pertanyaan kedua, tentunya sangat berkaitan
    aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi dari nilai-nilai etika dan estetika. Dengan kata lain, apakah yang baik atau bagus itu. dalam pengembangan kurikulum filsafat ini berguna untuk menentukan nilai-nilai apa saja yang dibutuhkan siswa. Nilai dan implikasi aksiologi di dalam pendidikan ialah pendidikan menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut di dalam kehidupan manusia dan membinanya di dalam kepribadian anak. Karena untuk mengatakan sesuatu bernilai baik itu bukanlah hal yang mudah. Apalagi menilai secara mendalam dalam arti untuk membina kepribadian ideal. Berikut ini beberapa contoh yang dapat kita pergunakan untuk menilai seseorang itu baik secara perkataan, yaitu :
    a. Baik, Bu. Saya akan selalu baik dan taat kepada Ibu!
    b. Nak, bukanlah ini bacaan yang baik untuk mu?
    c. Baiklah, Pak. Aku akan mengamalkan ilmuku. atau jika dengan perbuatan kita bisa melihat nilai tsb saat anak belajar dikelas, kelas bersih dan rapi, tidak ribut, kritis terhadap permasalahan yang diberikan, dll

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menurut pendapat kak rina, bagaimana bentuk dari evaluasi guru tersebut? Apakah dengan menerapkan hal yang demikian dapat merubah kecenderungan guru tersebut ?

      Hapus
    2. bentuk evaluasi dalam guru mengikuti petunjuk RPP sebagai rancangan pembelajaran menurut saya, guru tersebut harus dilatih untuk bisa membuat RPP sendiri. karna beberapa guru yang tidak menggunakan RPP dalam proses pembelajaran inilah yang "malas" atau tdk mau menggunakan RPP.

      Hapus
    3. aksiologi adalah studi tentang hakikat tertinggi dari nilai-nilai etika dan estetika. Dengan kata lain, apakah yang baik atau bagus itu. dalam pengembangan kurikulum filsafat ini berguna untuk menentukan nilai-nilai apa saja yang dibutuhkan siswa. Nilai dan implikasi aksiologi di dalam pendidikan ialah pendidikan menguji dan mengintegrasikan semua nilai tersebut di dalam kehidupan manusia dan membinanya di dalam kepribadian anak.

      Hapus
  2. Kurikulum 2013 di kaji dengan Kajian Aksiologi yaitu terletak pada manfaat yang akan dicapai bila kurikulum 2013 ini di luncurkan. Adapun manfaat dari pembelajaran tematik terpadu adalah sebagai berikut:
    a) Suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan;
    b) Menggunakan kelompok kerja sama, kolaborasi, kelompok belajar, dan strategi pemecahan konflik yang mendorong peserta didik untuk memecahkan masalah;
    c) Mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci kelas yang ramah otak (brain-friendly classroom);
    d) Peserta didik secara cepat dan tepat waktu mampu memproses informasi. Proses itu tidak hanya menyentuh dimensi kuantitas dan kualitas mengeksplorasi konsep-konsep baru dan membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan secara siap;
    e) Proses pembelajaran di kelas mendorong peserta didik berada dalam format ramah otak;
    f) Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diaplikasikan langsung oleh peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari;
    g) Peserta didik yang relatif mengalami keterlambatan untuk menuntaskan program belajar dapat dibantu oleh guru dengan cara memberikan bimbingan khusus dan menerapkan prinsip belajar tuntas;
    h) Program pembelajaran yang bersifat ramah otak memungkinkan guru untuk mewujudkan ketuntasan belajar dengan menerapkan variasi cara penilaian.
    Jadi kajiaj aksiologi dalam kurikulum 2013 ini lebih menekankan nilai guna ilmu yg fi terapkan. Untuk apa k 13 ini di terapkan. Apa tujuannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menanggapi jawaban dari dian, yg telah disebutkan diatas contoh dari guru kesiswa nya, bagaimana contoh yang dari siswa nya dalam hal kaitan aksiologi terhadap k13?

      Hapus
    2. Untuk contoh dari siswanya adlaah. Misalnya anak sedang belajar materi asam basa tentu anak akan memiliki nilai nilai dari materi tersebut dan anak mendapat manfaat setelah mempelajari dan memahami materi asam dan basa. Itu semua tidak terlepas dari peran pendidik bagaimana cara mereka menyampaikan materi agar 3 dasar tdi ontologi,epistimologi dan aksiologi terlihat dam tampak dalam pelaksanaannya

      Hapus
  3. Saya akan menjawab pertanyaan nomor 3, Dalam proses pengembangan kurikulum, jelas selalu diterapkan landasan aksiologi. Karena aksiologi merupakan cabang filsafat umum yang selalu ada dalam landasan Filosofis. Aksiologi mempelajari mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan, menyelidiki hakikat nilai, serta berisi mengenai etika dan estetika. Contohnya: Dalam penerapan landasan filosofi di Indonesia maka menggunakan falsafah pancasila yang selalu ada dalam setiap pengembangan kurikulum. Saya mengambil contoh pada sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Aksiologi yang diterapkan disini adalah guru akan selalu memberikan penghargaan atau nilai kepada peserta didik yang aktif, kreatif, produktif tanpa memandang suku, agama, status sosial, pangkat atau jabatan orang tuanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menanggapi jawaban dari kak rifany, apakah hanya aksiologi yang merupakan cabang umum dari filsafat filosofis? Bagaimana dengan ontologi dan epistomologi? Apakah ketiga nya memiliki kedudukan yang sama atau bagaimana?

      Hapus
  4. Seseorang memiliki ilmu mengetahui teori nya namun belum mengaplikasikan ilmunya itu sendiri, misalnya seorang guru yang paham mengenai RPP namun masih banyak diantara mereka yang belum mengaplikasikannya. Mereka jarang sekali mengajar menggunakan RPP, RPP hanya sekedar formalitas tanpa dipraktekkan, Bagaimana menurut tanggapan anda mengenai hal tersebut ?
    saya akan menjawab soal nomor 1, sebenarnya menggunakan model apapun asalkan tepat kita membantunya prosesnya pasti memberikan dampak yang baik. namun jika kita menggunakan konsep atau langkah-langkah yg kita buat di rpp hal itu lebih terstruktur saja, yang perlu diperhatikan dalam menerapkan suatu model dipembelajaran kita harus tau bagaimana cara kita membantu siswa dalam mengalami kesulitan. tidak semua kesulitan yng dihadapi siswa harus kita bantu.. saat ini penggunaan scaftfolding sedang menjadi pembicaraan di pendidikan.. dimana dia menjelaskan bahwa pembelajaran scaffolding dapat diartikan sebagai suatu teknik pemberian dukungan belajar secara terstruktur, yang dilakukan pada tahap awal untuk mendorong siswa agar dapat belajar secara mandiri. Pemberian dukungan belajar ini tidak dilakukan secara terus menerus, tetapi seiring dengan terjadinya peningkatan kemampuan siswa, secara berangsur-angsur guru harus mengurangi dan melepaskan siswa untuk belajar secara mandiri. Jika siswa belum mampu men­­ca­pai kemandirian dalam belajarnya, guru kembali ke sistem dukungan untuk mem­bantu siswa memperoleh kemajuan sampai me­reka benar-benar mampu mencapai kemandirian. Dengan demikian, esensi dan prinsip kerjanya tampaknya tidak jauh berbeda dengan scaffolding dalam konteks mendirikan sebuah bangunan. Pembelajaran Scaffolding sebagai sebuah teknik bantuan belajar (assisted-learning) dapat dilakukan pada saat siswa merencanakan, melaksanakan dan merefleksi tugas-tugas belajarnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat saudari tri untuk menjawab pertanyaan rini, belajar sebenarnya tidak hanya terpaku pada guru saja seharusnya terutama pada zaman yang amat canggih seperti saat ini, guru bisa saja dengan memberikan garis besarnya saja tetapi secara mandiri atau dengan peer-tutoring siswa bisa mengconstruct pengetahuannya sendiri. guru hanya sebagai pengarah saja, namun demikian peran guru tetap penting apalagi dalam perencanaan serta tata kondisi kelas saat pembelajaran sehingga proses scaftfolding maupun peer-tutoring tetap berjalan. tak harus melulu terpaku dan terstuktur kepada RPP, tetapi bagaimana tata laksananya, itu yg terpenting.

      Hapus
    2. saya ingin sedikit menanggapi dan menambahkan permasalahan nomor 1 ini karena menurut saya seorang guru yang paham mengenai RPP namun masih banyak belum mengaplikasikannya dan jarang sekali mengajar menggunakan RPP sehingga RPP hanya terkesan sekedar formalitas tanpa dipraktekkan itu disebabkan karena sebagian besar guru itu sendiri umumnya malas untuk membuat RPP sesuai dengan situasi dan kondisi pendukung keterlaksanaan pembelajaran yang ia lakukan. dari beberapa kasus yang saya temui umunya guru membuat RPP hanya mengcopy milik orang lain dan mengajar hanya dengan metode konfensional. nah solusi yang dapat tawarkan disini karena permasalahannya guru tsb sudah memiliki ilmu dan mengetahui teori nya namun belum mengaplikasikan ilmunya maka haruslah diberikan pemahaman bahwa pembuatan RPP yang baik dan sesuai dengan kondisi pembelajarannya itu penting dan dapat mempermudah guru dalam keterlaksanaan pembelajaran hal ini dapat dilakukan oleh kepala sekolah atau pengawas. selain itu dapat pula melalui sebuah organisasi guru misalnya MGMP untuk secara bersama-sama membuat RPP tersebut.

      Hapus
  5. bagi saya pribadi RPP hanya sebagai patokan dalam melaksanakan pembelajaran, hal-hal apasaja yang harus kita capai dalam pembelajaran. dalam kasus yang anda utarakan, banyak sekali guru-guru diluar sana yang jarang menggunakan rpp dalam mengajar, terutama guru-guru senior. bagi mereka rpp hanya formalitas saja, kelas pun akan mengalir dengan sendirinya. tergantung kepiawaian guru yang bersangkutan. bagi saya asalkan tujuan pembelajaran tercapai, mau model dan metode apapun yang digunakannya, asal tujuan pembelajaran tercapai dan peserta didik memahami materi tersebut, bagi saya itu tidak masalah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya kurang sependapat dengan dani, karena justru pada rpp harus kita desain sedemikian rupa agar dapat kita jadikan panduan dalam mengajar, selanjutnya jika ada hal-hal diluar skenario rpp yg terjadi di kelas, hendaknya kita catat sebagai tambahan atau revisi untuk rpp selanjutnya

      Hapus
  6. Aspek aksiologis dari filsafat membahas tentang masalah nilai atau moral yang berlaku di kehidupan manusia. Dari aksiologi, secara garis besar muncullah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia, yaitu etika dan estetika.
    Mengapa dalam filsafat ada pandangan yang mengatakan nilai sangatlah penting, itu karena filsafat sebagai philosophy of life mengajarkan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan yang berfungsi sebagai pengontrol sifat keilmuan manusia. Teori nilai ini sama halnya dengan agama yang menjadi pedoman kehidupan manusia.
    Studi tentang tindakan manusia biasanya hanya semata menggambarkan siapakah mereka dan bagaimana mereka. Dalam hal seperti ini, ilmu antropologi atau filsafat manusia memainkan peranan penting, misalnya ia menggambarkan berbagai macam kebudayaan manusia yang menunjukkan kebiasaan, adat, cara bahasa dan lainnya. Jadi, pertanyaannya Apakah manusia?
    Tetapi, ketika pertanyaannya adalah Apa yang (se) harus (nya) dilakukan manusia?, inilah wilayah ilmu etika atau juga disebut sebagai filsafat kesusilaan. Hal ini berangkat dari fakta bahwa dalam hidup manusia bukan hanya bertindak, malainkan menilai tindakannya. Jadi, studi etika bukan berdasar pada what is, tetapi how to.

    BalasHapus
  7. Saya akan menjawab permasalahan yang kedua
    Kurikulum 2013 di kaji dengan Kajian Aksiologi yaitu terletak pada manfaat yang akan dicapai bila kurikulum 2013 ini di luncurkan. Adapun manfaat dari pembelajaran tematik terpadu adalah sebagai berikut:
    a) Suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan;
    b) Menggunakan kelompok kerja sama, kolaborasi, kelompok belajar, dan strategi pemecahan konflik yang mendorong peserta didik untuk memecahkan masalah;
    c) Mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci kelas yang ramah otak (brain-friendly classroom);

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sependapat dengan kak melda, kaitannya sangat erat antara K13 dengan landasan aksiologi, dipandang dari sudut mana siswa lebih mudah memahami materinya.

      Hapus
  8. Saya akan menjawab pertanyaan yang pertama yaitu Seseorang memiliki ilmu mengetahui teori nya namun belum mengaplikasikan ilmunya itu sendiri, misalnya seorang guru yang paham mengenai RPP namun masih banyak diantara mereka yang belum mengaplikasikannya. Mereka jarang sekali mengajar menggunakan RPP, RPP hanya sekedar formalitas tanpa dipraktekkan, Bagaimana menurut tanggapan anda mengenai hal tersebut ?
    Menurut pendapat saya RPP dapat dijadikan panduan dalam mengajar, guru harus di evaluasi sampai guru terbiasa untuk menggunakan RPP, bentuk evaluasi dalam guru mengikuti petunjuk RPP sebagai rancangan pembelajaran, guru tersebut harus dilatih untuk bisa membuat RPP sendiri.

    Untuk pertanyaan kedua : Terkait dengan landasan aksiologi yang merupakan bagian dari landasan filosofis, bagaimanakah keterkaitan antara landasan aksiologis terhadap kurikulum 2013 ?
    Menurut pendapat saya Kurikulum 2013 di kaji dengan Kajian Aksiologi yaitu terletak pada manfaat yang akan dicapai bila kurikulum 2013 ini di luncurkan. Adapun manfaat dari pembelajaran tematik terpadu adalah sebagai berikut:
    a) Suasana kelas yang nyaman dan menyenangkan;
    b) Menggunakan kelompok kerja sama, kolaborasi, kelompok belajar, dan strategi pemecahan konflik yang mendorong peserta didik untuk memecahkan masalah;
    c) Mengoptimasi lingkungan belajar sebagai kunci kelas yang ramah otak (brain-friendly classroom);
    d) Peserta didik secara cepat dan tepat waktu mampu memproses informasi. Proses itu tidak hanya menyentuh dimensi kuantitas dan kualitas mengeksplorasi konsep-konsep baru dan membantu peserta didik mengembangkan pengetahuan secara siap;
    e) Proses pembelajaran di kelas mendorong peserta didik berada dalam format ramah otak;
    f) Materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diaplikasikan langsung oleh peserta didik dalam kehidupannya sehari-hari;
    g) Peserta didik yang relatif mengalami keterlambatan untuk menuntaskan program belajar dapat dibantu oleh guru dengan cara memberikan bimbingan khusus dan menerapkan prinsip belajar tuntas;
    h) Program pembelajaran yang bersifat ramah otak memungkinkan guru untuk mewujudkan ketuntasan belajar dengan menerapkan variasi cara penilaian.

    Untuk pertanyaan ketiga : Dalam proses pengembangan kurikulum, apakah landasan aksiologi selalu digunakan/diterapkan apa contohnya?
    Menurut pendapat saya aksiologi merupakan cabang filsafat umum yang selalu ada dalam landasan Filosofis. Aksiologi mempelajari mengenai manfaat apa yang diperoleh dari ilmu pengetahuan, menyelidiki hakikat nilai, serta berisi mengenai etika dan estetika. Contohnya: Dalam penerapan landasan filosofi di Indonesia maka menggunakan falsafah pancasila yang selalu ada dalam setiap pengembangan kurikulum. Saya mengambil contoh pada sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Aksiologi yang diterapkan disini adalah guru akan selalu memberikan penghargaan atau nilai kepada peserta didik yang aktif, kreatif, produktif tanpa memandang suku, agama, status sosial, pangkat atau jabatan orang tuanya.

    BalasHapus

Posting Komentar