Langsung ke konten utama

Materi 5


PRINSIP DESAIN SISTEM PEMBELAJARAN
Prinsip Desain Sistem Pembelajaran
Desain pembelajaran dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan, penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.
Sementara itu desain pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang digunakan.
Dengan demikian dapat disimpulkan desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan merancang "perlakuan" berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi. Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru, atau dalam latar berbasis komunitas.
Sistem pembelajaran merupakan satu kesatuan dari beberapa komponen pembelajaran yang saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Komponen pembelajaran meliputi; peserta didik, pendidik, kurikulum, bahan ajar, media pembelajaran, sumber belajar, proses pembelajaran, fasilitas, lingkungan dan tujuan. Komponen-komponen tersebut hendaknya dipersiapkan atau dirancang (desain) sesuai dengan program pembelajaran yang akan dikembangkan. Reigeluth (1999: 11) menjelaskan bahwa “desain pembelajaran sebagai ilmu kadang disamakan dengan ilmu pembelajaran”. Kedua disiplin ini menaruh perhatian yang sama pada perbaikan kualitas pembelajaran. Namun para ilmuwan pembelajaran lebih menfokuskan pada pengamatan hasil pembelajaran yang muncul akibat manipulasi suatu metode dalam kondisi tertentu, hal ini dilakukan untuk memperoleh teori-teori pembelajaran (preskriptif). Bagi perancang lebih menaruh perhatian pada upaya untuk menggunakan teori-teori pembelajaran yang dihasilkan oleh ilmuwan pembelajaran untuk memperoleh hasil yang optimal memalui proses yang sistematis dan sistemik.
Penyusunan desain sistem pembelajaran berpijak pada teori preskriptif. Teori preskriptif adalah goal oriented, sedangkan teori deskriptif adalah goal free maksudnya bahwa teori pembelajaran preskriptif dimaksudkan untuk mencapai tujuan, sedangkan teori pembelajaran deskriptif dimaksudkan untuk memberikan hasil. Itulah sebabnya bahwa yang diamati dalam pengembangan teori pembelajaran preskriptif adalah metode yang optimal untuk mencapai tujuan.
Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran
a)    Respon-respon baru diulang sebagai akibat dari respon tersebut
b)    Perilaku tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respon, tetapi juga di bawah pengaruh kondisi atau tanda-tanda yang terdapat dalam lingkungan peserta didik. 
c)    Perilaku yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang frekuensinya bila tidak diperkuat dengan pemberian akibat yang menyenangkan
d)    Belajar yang berbentuk respon terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer kepada situasi lain yang terbatas pula. 
e)    Belajar menggeneralisasikan dan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang kompleks seperti pemecahan masalah
f)     Status mental siswa/mahasiswa untuk menghadapi pelajaran akan mempengaruhi perhatian dan ketekunan siswa/mahasiswa selama proses belajar. 
g)    Kegiatan belajar yang dibagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik untuk penyelesaian setiap langkah akan membantu sebagian besar siswa/mahasiswa. 
h)    Kebutuhan memecah materi belajar yang kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil akan dapat dikurangi bila materi belajar yang kompleks dapat diwujudkan dalam suatu model. 
i)     Keterampilan tingkat tinggi seperti keterampilan mermecahkan masalah adalah perilaku kompleks yang terbentuk dari komposisi keterampilan dasar yang lebih sederhana
j)     Belajar cenderung menjadi cepat dan efisien serta menyenangkan bila mahasiswa diberi informasi bahwa ia menjadi lebih mampu dalam keterampilan memecahkan masalah. 
k)    Perkembangan dan kecepatan belajar mahasiswa bervariasi, ada yang maju dengan cepat, ada yang lebih lambat.
l)     Dengan persiapan mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan meng- organisasikan kegiatan belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat respon yang benar. 
Untuk merancang dan mengembangkan sistem pembelajaran, dipengaruhi oleh beberapa komponen sebagai berikut:
a)    Kemampuan awal peserta didik dan potensi yang dimiliki
b)    Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh peserta didik
c)    Analisis materi pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
d)    Analisis aktivitas pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari
e)    Pengembangan media pembelajaran yang sesuai dengan tujuan, materi pembelajaran dan kemampuan peserta didik
f)     Strategi pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.
g)    Sumber belajar, adalah sumber-sumber yang dapat diakses untuk memperoleh materi yang akan dipelajari
h)    Penilaian belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi yang dikuasai oleh peserta didik.
Komponen utama dari desain pembelajaran adalah:
1)    Pembelajar (pihak yang menjadi fokus) yang perlu diketahui meliputi, karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat.
2)    Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) Adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh pembelajar.
3)    Analisis Pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari
4)    Strategi Pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.
5)    Bahan Ajar, adalah format materi yang akan diberikan kepada pembelajar
6)    Penilaian Belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi ang sudah dikuasai atau belum.
Esensi desain pembelajaran hanyalah mencakup empat komponen, yaitu : peserta didik, tujuan, metode, evaluasi.(Kemp, Morrison dan Ross, 1994)
1. Peserta didik
Dalam menentukan desain pembelajaran dan mata pelajaran yang akan disampaikan perlu diketahui bahwa yang sebenarnya dilakukan oleh para desainer adalah menciptakan situasi belajar yang kondusif sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dan peserta didik merasa nyaman dan termotivasi dalam proses belajarnya. Peserta didik sebelum dan selama belajar dapat dipengaruhi oleh berbagai factor baik fisik maupun mental, misalnya kelelahan, mengantuk, bosan, dan jenuh.
2. Tujuan
Setiap rumusan tujuan pembelajaran selalu dikembangkan berdasarkan kompetesi atau kinerja yang harus dimiliki oleh peserta didik jika ia selesai belajar. Seandainya tujuan pembelajaran atau kompetensi dinilai sebagai sesuatu yang rumit, maka tujuan pembelajaran tersebut dirinci menjadi subkompetensi yang dapat mudah dicapai.
3. Metode
Metode terkait dengan stratei pembelajaran yang sebaiknya dirancng agar proses belajar berjalan mulus. Metode adalah cara-cara atau teknik yang dianggap jitu untuk menyampaikan materi ajar. Dalam desain pembelajaran langkah ini sangat penting karena metode inilah yang menentukan situasi belajar yang sesungguhnya. Di lain pihak kepiawaian seorang desainer pembelajaran juga terlihat dalam cara menentukan metode. Pada konsep ini meode adalah komponen strategi pembelajaran yang sederhana.
4. Evaluasi
Konsep ini menganggap menilai hasil belajar peserta didik sangat penting. Indikator keberhasilan pencapaian suatu tujuan belajar dapat diamati dari penilaian hasil belajar. Seringkali penilaian dilakukan dengan cara menjawab soal-soal objektif. Penilaian juga dapat dilakukan dengan format non soal, yaitu dengan instrument pengamatan, wawancara, kuesioner dan sebagainya.
Kedudukan Desain Sistem Pembelajaran
Setiap komponen memiliki peran dan fungsi sesuai dengan konteksnya. Untuk membuat rancangan dan pengembangan sistem pembelajaran harus memahami posisi dan perannya dalam pelaksanaan pembelajaran. Kedudukan desain sistem pembelajaran dalam kegiatan pembelajaran, merupakan bagian dari kegiatan pembelajaran. Proses kegiatan pembelajaran secara umum meliputi tiga tahap, yaitu tahap pertama; merancang dan mengembangkan system pembelajaran, kedua penerapan desain sistem pembelajaran dan ketiga evaluasi pembelajaran.
Tahap 1

Tahap 2

Tahap 3
Mendesain

Penerapan

Evaluasi
Sistem

Desain Sistem

Pembelajaran
Pembelajaran

Pembelajaran








Gambar  Siklus kegiatan Pembelajaran

Teori-teori Pembelajaran dalam Desain Pembelajaran
1.    Teori Behaviorisme
Behaviorisme memandang fikiran sebagai ‘kotak hitam” dalam merespon rangsangan yang dapat diobsevasi secara kuantitatif, sepenuhnya mengabaikan proses berfikir yang terjadi dalam otak. Kelompok ini memandang tingkah laku yang dapat diobservasi dan diukur sebagai indikator belajar. Implementasi prinsip ini dalam mendesain suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:
a)    Siswa harus diberitahu secara eksplisit outcome belajar sehingga mereka dapat mensetting harapan-harapan mereka dan menentukan apakah dirinya telah mencapai outcome dari pembelajaran online atau tidak.
b)    Pembelajar harus diuji apakah mereka telah mencapai outcome pembelajaran atau tidak. Tes dilakukan untuk mencek tingkat pencapaian pembelajar dan untuk memberi umpan balik yang tepat.
c)    Materi belajar harus diurutkan dengan tepat untuk meningkatkan belajar. Urutan dapat dimulai dari bentuk yang sederhana ke yang kompleks, dari yang diketahui sampai yang tidak diketahui dan dari pengetahuan sampai penerapan.
d)    Pembelajar harus diberi umpan balik sehingga mereka dapat mengetahui bagaimana melakukan tindakan koreksi jika diperlukan.

2.    Teori Kognitivisme
Kognitivisme membagi tipe-tipe pembelajar, yaitu: 1) Pembelajar tipe pengalaman-konkret lebih menyukai contoh khusus dimana mereka bisa terlibat dan mereka berhubungan dengan teman-temannya, dan bukan dengan orang-orang dalam otoritas itu; 2) Pembelajar tipe observasi reflektif suka mengobservasi dengan teliti sebelum melakukan tindakan; 3) Pembelajar tipe konsepsualisasi abstrak lebih suka bekerja dengan sesuatu dan symbol-simbol dari pada dengan manusia. Mereka suka bekerja dengan teori dan melakukan analisis sistematis. 4) Pembelajar tipe eksperimentasi aktif lebih suka belajar dengan melakukan paktek proyek dan melalui kelompok diskusi. Mereka menyukai metode belajar aktif dan berinteraksi dengan teman untuk memperoleh umpan balik dan informasi. Implementasi prinsip ini dalam mendesain suatu media pembelajaran adalah sebagai berikut:
a)    Materi pembelajaran harus memasukan aktivitas gaya belajar yang berbeda, sehingga siswa dapat memilih aktivitas yang tepat berdasarkan kecenderungan gaya berlajarnya.
b)    Sebagai tambahan aktivitas, dukungan secukupnya harus diberikan kepada siswa dengan perbedaan gaya belajar. Siswa dengan perbedaan gaya belajar memiliki perbedaan pilihan terhadap dukungan, sebagai contoh, assimilator lebih suka kehadiran instruktur yang tinggi. Sementara akomodator lebih suka kehadiran instruktur yang rendah.
c)    Informasi harus disajikan dalam cara yang berbeda untuk mengakomodasi berbedaan individu dalam proses dan memfasilitasi transfer ke long-term memory.
d)    Pembelajar harus dimotivasi untuk belajar, tanpa memperdulikan sebagaimana efektif materi, jika pembelajar tidak dimotivasi mereka tidak akan belajar.
e)    Pada saat belajar, pembelajar harus diberi kesempatan untuk merefleksi apa yang mereka pelajari. Bekerja sama dengan pembelajar lain, dan mengecek kemajuan mereka.
f)     Psikologi kognitif menyarankan bahwa pembelajar menerima dan memproses informasi untuk ditransfer ke long term memory untuk disimpan.

3.    Teori Konstruktivisme
Penekanan pokok pada konstruktivis adalah situasi belajar, yang memandang belajar sebagai yang kontekstual. Aktivitas belajar yang memungkinkan pembelajar mengkontekstualisasi informasi harus digunakan dalam mendesain sebuah media pembelajaran. Jika informasi harus diterapkan dalam banyak konteks, maka strategi belajar yang mengangkat belajar multi-kontekstual harus digunakan untuk meyakinkan bahwa pembelajar pasti dapat menerapkan informasi tersebut secara luas. Belajar adalah bergerak menjauh dari pembelajaran satu-cara ke konstruksi dan penemuan pengetahuan. Implementasi pada online learning adalah sebagai berikut:
a)    Belajar harus menjadi suatu proses aktif. Menjaga pembelajar tetap aktif melakukan aktivitas yang bermakna menghasilkan proses tingkat tinggi, yang memfasilitasi penciptaan makna personal.
b)    Pembelajar mengkonstruksi pengetahuan sendiri bukan hanya menerima apa yang diberi oleh instruktur. Konstruksi pengetahuan difasilitasi oleh pembelajaran interaktif yang bagus, karena siswa harus mengambil inisiatif untuk berinteraksi dengan pembelajar lain dan dengan instruktur, dan karena agenda belajar dikontrol oleh pembelajar sendiri.
c)    Bekerja dengan pembelajar lain memberi pembelajar pengalaman kehidupan nyata melalui kerja kelompok, dan memungkinkan mereka menggunakan keterampilan meta-kognitif mereka.
d)    Pembelajar harus diberi control proses belajar.
e)    Pembelajar harus diberi waktu dan kesempatan untuk refleksi. Pada saat belajar online siswa perlu merefleksi dan menginternalisasi informasi.
f)     Belajar harus dibuat bermakna bagi siswa. Materi belajar harus memasukan contoh-contoh yang berhubungan dengan pembelajar sehingga mereka dapat menerima informasi yang diberikan.
g)    Belajar harus interaktif dan mengangkat belajar tingkat yang lebih tinggi dan kehadiran sosial, dan membantu mengembangkan makna personal. Pembelajar menerima materi pelajaran melalui teknologi, memproses informasi, dan kemudian mempersonalisasi dan mengkontekstualisasi informasi tersebut.

Klasifikasi Model Desain Sistem Pembelajaran
Dalam memahami model desain sistem pembelajaran perlu mengenal dan memahami pengelompokan model desain system pembelajaran. Menurut Gustafson dan Branch (2002) model desain sistem pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok. Pembagian klasifikasi ini didasarkan pada orientasi penggunaan model, yaitu; 1) Classrooms oriented model, 2) Product oriented model, 3) System oriented model
1. Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi kelas (Classrooms oriented model)
Penggunaan model berorientasi kelas ini didasarkan pada asumsi adanya sejumlah aktivitas pembelajaran yang diselenggarakan di dalam kelas dengan waktu belajar yang telah ditetapkan sebelumnya. Dalam hal ini, tugas pendidik memilih isi/materi pelajaran yang tepat, merencanakan strategi pembelajaran, menyampaikan isi/materi pelajaran, dan mengevaluasi hasil belajar. Para pendidik biasanya menganggap bahawa model desain sistem pembelajaran pada dasarnya berisi langkah-langkah yang harus diikuti.
2. Model desain pembelajaran yang berorientasi produk (Product oriented model)
Model-model yang berorientasi pada produk biasanya ditandai dengan empat asumsi pokok, yaitu: 
a)    Produk atau program pembelajaran memang sangat diperlukan.
b)    Produk atau program pembelajaran baru perlu diproduksi,
c)    Produk atau program pembelajaran memerlukan proses uji coba dan revisi,
d)    Produk atau program pembelajaran dapat digunakan walaupun hanya dengan bimbingan dari fasilitator.
3. Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi sistem (System oriented model) 

Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem dilakukan untuk mengembangkan sistem dalam skala besar seperti keseluruhan mata pelajaran atau kurikulum. Implementasi model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem memerlukan dukungan sumber daya besar dan tenaga ahli yang berpengalaman. Model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem dimulai dari tahap pengumpulan data untuk menentukan kemungkinan-kemungkinan implementasi solusi yang diperlukan untuk mengatasi masalah yang terdapat dalam suatu sistem pembelajaran. Analisis kebutuhan dan front-end analysis dilakukan secara intensif untuk mencari solusi yang akurat. Perbedaan pokok antara model yang berorientasi sistem dengan produk terletak pada tahap atau fase desain, pengembangan, dan evaluasi. Ketiga fase ini dilakukan dalam skala yang lebih besar pada model desain sistem pembelajaran yang berorientasi pada sistem.
Model-model Desain Pembelajaran
Model desain sistem pembelajaran berperan sebagai alat konseptual, pengelolaan, komunikasi untuk menganalisis, merancang, menciptakan, mengevaluasi program pembelajaran, dan program pelatihan. Pada umumnya, setiap desain sistem pembelajaran memiliki keunikan dan perbedaan dalam langkah-langkah dan prosedur yang digunakan. Perbedaan juga kerap terdapat pada istilah-istilah yang digunakan. Namun demikian, model-model desain tersebut memiliki dasar prinsip yang sama dalam upaya merancang program pembelajaran yang berkualitas. Dalam desain pembelajaran dikenal beberapa model yang dikemukakan oleh para ahli. Beberapa contoh dari model desain pembelajaran diuraikan secara lebih jelas berikut ini:
1) Model Dick and Carey
Model yang dikembangkan didasarkan pada penggunaan pendekatan sistem terhadap komponen-komponen dasar desain pembelajaran yang meliputi analisis desain pengembangan, implementasi dan evaluasi. Adapun komponen dan sekaligus merupakan langkah-langkah utama dari model desain pembelajaran yang dikemukakan oleh Dick, Carey & Carey (2009) adalah:
a.    Mengidentifikasi tujuan pembelajaran.
b.    Melakukan analisis instruksional.
c.    Menganalisis karakteristik peserta didik dan konteks pembelajaran.
d.    Merumuskan tujuan pembelajaran khusus.
e.    Mengembangkan instrumen penilaian.
f.     Mengembangkan strategi pembelajaran.
g.    Mengembangkan dan memilih bahan ajar.
h.    Merancang dan mengembangkan evaluasi formatif.
i.      Melakukan revisi terhadap program pembelajaran.
j.      Merancang dan mengembangkan evaluasi sumatif.
2) Model Kemp
Menurut Morisson, Ross, dan Kemp (2004), model desain sistem pembelajaran ini akan membantu pendidik sebagai perancang program atau kegiatan pembelajaran dalam memahami kerangka teori dengan lebih baik dan menerapakan teori tersebut untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang lebih efektif dan efisien. Secara singkat, menurut model ini terdapat beberapa langkah, yaitu:
a.    Menentukan tujuan dan daftar topik, menetapkan tujuan umum untuk pembelajaran tiap topiknya;
b.    Menganalisis karakteristik peserta didik, untuk siapa pembelajaran tersebut didesain;
c.    Menetapkan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dengan syarat dampaknya dapat dijadikan tolok ukur perilaku peserta didik;
d.    Menentukan isi materi pelajar yang dapat mendukung tiap tujuan;
e.    Pengembangan penilaian awal untuk menentukan latar belakang peserta didik dan pemberian level pengetahuan terhadap suatu topik;
f.     Memilih aktivitas dan sumber pembelajaran yang menyenangkan atau menentukan strategi pembelajaran, jadi peserta didik akan mudah menyelesaikan tujuan yang diharapkan;
g.    Mengkoordinasi dukungan pelayanan atau sarana penunjang yang meliputi personalia, fasilitas-fasilitas, perlengkapan, dan jadwal untuk melaksanakan rencana pembelajaran;
h.    Mengevaluasi pembelajaran peserta didik dengan syarat mereka menyelesaikan pembelajaran serta melihat kesalahan-kesalahan dan peninjauan kembali beberapa fase dari perencanaan yang membutuhkan perbaikan yang terus menerus, evaluasi yang dilakukan berupa evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
3) Model ADDIE
Ada satu model desain pembelajaran yang lebih sifatnya lebih generik yaitu model ADDIE (Analysis-Design-Develop-Implement-Evaluate). ADDIE muncul pada tahun 1990-an yang dikembangkan oleh Reiser dan Mollenda. Salah satu fungsinya ADDIE yaitu menjadi pedoman dalam membangun perangkat dan infrastruktur program pelatihan yang efektif, dinamis dan mendukung kinerja pelatihan itu sendiri. Model ini menggunakan lima tahap pengembangan yakni: a) Analysis (analisa), b) Design (disain / perancangan), c) Development (pengembangan), d) Implementation (implementasi/eksekusi), e) Evaluation (evaluasi / umpan balik).
4) Model Hanafin and Peck
Model Hannafin dan Peck ialah model desain pengajaran yang terdiri daripada tiga fase, yaitu fase analisis kebutuhan, fase desain dan fase pengembangan atau implementasi. Dalam model ini, penilaian dan pengulangan perlu dijalankan dalam setiap fase. Model ini adalah model desain pembelajaran berorientasi produk.
Permasalahan :
Berdasarkan pemaparan artikel diatas, menurut teman sekalian desain sistem pembelajaran yang seperti apakah yang diharapkan dalam kurikulum 2013 ? Apakah dalam dunia Pendidikan sekarang sudah menerapkan desain sistem pembelajaran yang ideal yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, berikan penjelasan teman sekalian ?

Komentar

  1. Desain sistem pembelajaran yang di harapkan dalam kurikulum 2013 adalah sistem pembelajaran yang bisa melahirkan peserta didik yang memiliki nilai sikap pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Dan mampu memberikan gagasan baru dengan seiringnya perkembangan teknologi.
    Dalam desain sistem pembelajaran harus memahami asumsi-asumsi tentang hakekat desain sistem pembelajaran. Asumsi asumsi yang perlu di perhatikan dalam mendesain sistem pembelajaran sebagai berikut:
    1.desain sistem pembelajaran didasarkan pada pengetahuan tentang bagaimana sesorang belajar.
    2. Desain sistem pembelajaran diarahkan kepada peserta didik secara individual dan kelompok
    3. Hasil pembelajaran mencakup hasil langsung dan pengiring
    4. Sasaran terakhir desain sistem pembelajaran adalah memudahkan belajar
    5. Desain sistem pembelajaran mencakup smua variabel yang memperngaruhi belajar.
    6. Inti desain sistem pembelajaran adalah penetapan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran(metode, media, skenario, sumber belajar, sistem penilaian) yang optimal untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
    Dan yg di harapkan kurikulum 2013 ini adalah desain sistem pembelajaran yang berpijak pada teori perpektif yaitu metode yang optimal untuk mencapai tujuan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. desain sistem pembelajaran yang berpijak teori perpektif yang seperti apakah yang diharapkan dalam k13 tersebut ?

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. mencoba menambahkan bahwa teori perspektifnya jika ditinjau dari konsep atau teori, teori behavioristik ini tentu berbeda dengan teori yang lain. Hal ini dapat kita lihat dalam pembelajaran sehari-hari dikelas. Ada berbagai asumsi atau pandangan yang muncul tentang teori behavioristik. Teori behavioristik memandang bahwa belajar adalah mengubah tingkah laku siswa dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan tugas guru adalah mengontrol stimulus dan lingkungan belajar agar perubahan mendekati tujuan yang diinginkan, dan guru pemberi hadiah siswa yang telah mampu memperlihatkan perubahan bermakna sedangkan hukuman diberikan kepada siswa yang tidak mampu memperlihatkan perubahan makna.

      Hapus
  2. saya akan menjawab pertanyaan dari rini yakni, apakah dalam dunia Pendidikan sekarang sudah menerapkan desain sistem pembelajaran yang ideal yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, berikan penjelasan teman sekalian ?
    menurut saya belum karena dengan adanya perubahan zaman dan IPTEK tidak ada satu pun desain pembelajaran yang ideal, karena balik lagi ke kebutuhan serta sitkon yang terjadi ditempat kita mengajar. namun saya jg tidak memungkiri bahwa desain sistem pembelajaran saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya dan tidak hanya mengembangkan softskill dari siswa saja tetapi juga hardskill dan competitive skillnya juga sudah mulai digalakan untuk dikembangkan. ideal atau tidaknya suatu desain sistem pembelajaran balik lagi ke bagaimana hasil akhir berupa feedback dari pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan diawal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. lalu menurut kakak, desain sistem pembelajaran yang seperti apa yang bisa dikatakan ideal sesuai dengan tuntutan kurikulum ?

      Hapus
    2. Saya setuju dengan pendapat saudari rini di atas.menurut saya belum karena dengan adanya perubahan zaman dan IPTEK tidak ada satu pun desain pembelajaran yang ideal, karena balik lagi ke kebutuhan serta sitkon yang terjadi ditempat kita mengajar.

      Disesuaikan juga dengan perkembangan iptek yang ada,

      Hapus
  3. menurut saya desain sistem pembelajaran yang di harapkan dalam kurikulum 2013 adalah sistem pembelajaran yang dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang bermutu dan mampu menghadapi persaingan global yang semakin maju. dalam kurikulum 2013 lebih dituntut kempuan peserta didik untuk dapat berkomunikasi, berpikir kritis dan jernih, siap untuk bekerja, kecerdasan sesuai dengan bakat/minatnya dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. oleh karena itu pada kurikulum 2013 ini pembelajaran didesain tidak lagi teacher center melainkan haruslah student center sehingga dalam proses pembelajaran siswa memperoleh kesempatan dan fasilitas untuk membangun sendiri pengetahuannya sehingga mereka akan memperoleh pemahaman yang mendalam (deep learning), dan pada akhirnya dapat meningkatkan mutu kualitas siswa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dari semua tuntutan yang diharapkan oleh kurikulum, apakah siswa seyogya nya mampu melakukan semua itu ? dan jika siswa ada yang tidak mampu menerapkan hal yang demikian apakah dikatakan bahwa siswa tersebut tidak dapat menerapkan isi kurikulum ?

      Hapus
    2. saya setuju dengan pendapat fira dimana k13 menuntut anak untuk dapat bereksplorasi dengan pengetahuan yang didapanya disekolah dan siswa dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. serta kritis dan kreatif terhadap suatu permasalahan yang ada.

      Hapus
  4. Desain sistem pembelajaran yang di harapkan dalam kurikulum 2013 adalah sistem pembelajaran yang bisa melahirkan peserta didik yang memiliki nilai sikap pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dan mampu memberikan gagasan baru dengan seiringnya perkembangan teknologi. Lalu menurut saya jika diminta memilih berdasarkan model desain pengembangan maka desain sistem pembelajaran yang diharapkan dalam kurikulum 2013 yaitu desain yang berorientasi kelas karena dalam memngembangkan potensi siswa seperti yang diharpkan kurikurlum 2013 lebih baik kita merujuk kepada hal yang kecil dulu yaitu dengan mendesain sistem belajar yang ada dikelas dengan menganalisis kebutuhan pembelajaran yang ada dikelas, dengan seperti itu setidaknya sebagai pendidik mampu mengkondisikan potensi yang dibentuk siswa sesuai dengan keinginan kurikulum.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sependapat dengan fani bahwa Desain sistem pembelajaran yang di harapkan dalam kurikulum 2013 adalah sistem pembelajaran yang bisa melahirkan peserta didik yang memiliki nilai sikap pengetahuan dan keterampilan yang tinggi dan mampu memberikan gagasan baru dengan seiringnya perkembangan teknologi

      Hapus
  5. baiklah kakak ada menyinggung mengenai model desain pembelajaran classroom oriented bagaimana penerapan yang lebih spesifik dengan 2 model lainnya terutama pada model yg berorientasi produk ?

    BalasHapus
  6. dalam k13 desain sistem pembelajaran yang diinginkan adalah lebih kepada student centered learning dimana nantinya dalam desain ini siswa akan diarahkan untuk belajar secara mandiri, dn guru hanya berperan untuk membimbing saja
    dan untuk sekarang baik dari pemerintah maupun pendidik sudah berusaha semaksimal mungkin dalam menerapkan desain pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum. untuk lebih efektifnya lagi, perlu diadakannya evaluasi tiap tahun (rapat tahunan) supaya ada pembaruan dan perbaikan dalam penerapan desain pembelajaran tsb.

    BalasHapus
  7. Menurut saya saat ini belum ada desain pembelajaran yang ideal yang mempersiapkan siswa pada pembelajaran abad 21, namun masih dalam.tahap penyesuaian dan evaluasi

    BalasHapus
    Balasan

    1. Saya sependapat dengan Kak Melda yaitu "saat ini belum ada desain pembelajaran yang ideal yang mempersiapkan siswa pada pembelajaran abad 21, namun masih dalam tahap penyesuaian dan evaluasi", jika tahapan ini telah selsai akan memunculkan model-model pembelajarn yang cocok untuk abad 21, skarang dalam proses.

      Hapus
  8. Saya akan menjawab pertanyaan dari rini :
    desain sistem pembelajaran yang seperti apakah yang diharapkan dalam kurikulum 2013 ?
    Menurut pendapat saya sistem pembelajaran yang dapat menghasilkan generasi penerus bangsa yang bermutu dan mampu menghadapi persaingan global yang semakin maju. sistem pembelajaran yang bisa melahirkan peserta didik yang memiliki nilai sikap pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. Dan mampu memberikan gagasan baru dengan seiringnya perkembangan teknologi.

    Apakah dalam dunia Pendidikan sekarang sudah menerapkan desain sistem pembelajaran yang ideal yang sesuai dengan tuntutan kurikulum, berikan penjelasan teman sekalian ?
    Menurut saya belum karena dengan adanya perubahan zaman dan IPTEK tidak ada satu pun desain pembelajaran yang ideal, karena balik lagi ke kebutuhan serta situasi dan kondisi yang terjadi ditempat kita mengajar. ideal atau tidaknya suatu desain sistem pembelajaran balik lagi ke bagaimana hasil akhir berupa feedback dari pencapaian tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan diawal.

    BalasHapus
  9. Desain sistem pembelajaran yang di harapkan dalam kurikulum 2013 adalah sistem pembelajaran yang bisa melahirkan peserta didik yang memiliki nilai sikap pengetahuan dan keterampilan yang tinggi. selain itu, keseimbangan antara kemampuan kognitif,afektif,dan psikomotor juga sangat ditekankan pada kurikulum 2013.

    BalasHapus

Posting Komentar