Langsung ke konten utama

Materi 12

Persentasi Inovasi Sintaks Model Pembelajaran PBL dan Dampaknya terhadap Kemampuan Berpikir Kritis
Definisi Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
PBL adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki kemampuan untuk berpikir kritis. PBL merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Dalam model PBL, fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga pembelajar tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah untuk memecahkan masalah tersebut.
Langkah-Langkah Model PBL
Pemecahan masalah dalam Model PBL harus sesuai dengan langkah-langkah metode ilmiah. Langkah-langkah pemecahan masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan (Sudjana, 2005), yaitu:
1.       Mengidentifikasi masalah
2.       Mengumpulkan data
3.      Menganalisis data
4.      Memecahkan masalah berdasarkan pada data yang ada dan analisisnya
5.      Memilih cara untuk memecahkan masalah
6.      Merencanakan penerapan pemecahan masalah
7.      Melakukan uji coba terhadap rencana yang ditetapkan
8.      Melakukan tindakan untuk memecahkan masalah
Langkah model PBL secara umum
Sintaks Model PBL
a.      Fase 1: Orientasi siswa terhadap masalah autentik
b.      Fase 2: Mengorganisasi siswa dalam belajar
c.       Fase 3: Membantu siswa secara individual atau kelompok dalam melaksanakan penelitian
d.      Fase 4: Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
e.      Fase 5: Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.
Karakteristik Berpikir Kritis 
Menurut Seifert dan Hoffnung (dalam Desmita, 2010:154), terdapat empat komponen berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
1.   Basic operations of reasoning. Untuk berpikir secara kritis, seseorang memiliki kemampuan untuk menjelaskan, menggeneralisasi, menarik kesimpulan deduktif dan merumuskan langkah-langkah logis lainnya secara mental. 
2.    Domain-specific knowledge. Dalam menghadapi suatu problem, seseorang harus mengetahui tentang topik atau kontennya. Untuk memecahkan suatu konflik pribadi, seseorang harus memiliki pengetahuan tentang person dan dengan siapa yang memiliki konflik tersebut. 
3. Metakognitive knowledge. Pemikiran kritis yang efektif mengharuskan seseorang untuk memonitor ketika ia mencoba untuk benar-benar memahami suatu ide, menyadari kapan ia memerlukan informasi baru dan mereka-reka bagaimana ia dapat dengan mudah mengumpulkan dan mempelajari informasi tersebut. 
4.   Values, beliefs and dispositions. Berpikir secara kritis berarti melakukan penilaian secara fair dan objektif. Ini berarti ada semacam keyakinan diri bahwa pemikiran benar-benar mengarah pada solusi. Ini juga berarti ada semacam disposisi yang persisten dan reflektif ketika berpikir.
Sedangkan menurut Beyer (dalam Surya, 2011:137), terdapat delapan karakteristik dalam kemampuan berpikir kritis, yaitu:
1.  Watak (dispositions). Seseorang yang mempunyai keterampilan berpikir kritis mempunyai sikap skeptis (tidak mudah percaya), sangat terbuka, menghargai kejujuran, respek terhadap berbagai data dan pendapat, respek terhadap kejelasan dan ketelitian, mencari pandangan-pandangan lain yang berbeda, dan akan berubah sikap ketika terdapat sebuah pendapat yang dianggapnya baik. 
2.    Kriteria (criteria). Dalam berpikir kritis harus mempunyai sebuah kriteria atau patokan. Untuk sampai ke arah sana maka harus menemukan sesuatu untuk diputuskan atau dipercayai. Meskipun sebuah argumen dapat disusun dari beberapa sumber pelajaran, namun akan mempunyai kriteria yang berbeda. Apabila kita akan menerapkan standarisasi maka haruslah berdasarkan kepada relevansi, keakuratan fakta-fakta, berlandaskan sumber yang kredibel, teliti, tidak bias, bebas dari logika yang keliru, logika yang konsisten, dan pertimbangan yang matang. 
3.   Argumen (argument). Argumen adalah pernyataan atau proposisi yang dilandasi oleh data-data. Namun, secara umum argumen dapat diartikan sebagai alasan yang dapat dipakai untuk memperkuat atau menolak suatu pendapat, pendirian, atau gagasan. Keterampilan berpikir kritis akan meliputi kegiatan pengenalan, penilaian, dan menyusun argumen. 
4.   Pertimbangan atau pemikiran (reasoning). Yaitu kemampuan untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis. Prosesnya akan meliputi kegiatan menguji hubungan antara beberapa pernyataan atau data.
5.    Sudut pandang (point of view). Sudut pandang adalah cara memandang atau landasan yang digunakan untuk menafsirkan sesuatu dan yang akan menentukan konstruksi makna. Seseorang yang berpikir dengan kritis akan memandang atau menafsirkan sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda. 
6.  Prosedur penerapan kriteria (procedures for applying criteria). Prosedur penerapan berpikir kritis sangat kompleks dan prosedural. Prosedur tersebut akan meliputi merumuskan masalah, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengindentifikasikan asumsi atau perkiraan-perkiraan.
Indikator Berpikir Kritis 
Menurut Ennis (dalam Maftukhin, 2013:24), terdapat lima kelompok indikator kemampuan berpikir kritis, yaitu sebagai berikut:
1.    Klarifikasi Dasar (Elementary Clarification). Klarifikasi dasar terbagi menjadi tiga indikator yaitu (1) mengidentifikasi atau merumuskan pertanyaan, (2) menganalisis argumen, dan (3) bertanya dan menjawab pertanyaan klarifikasi dan atau pertanyaan yang menantang. 
2.   Memberikan Alasan untuk Suatu Keputusan (The Basis for The Decision). Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) mempertimbangkan kredibilitas suatu sumber dan (2) mengobservasi dan mempertimbangkan hasil observasi. 
3.  Menyimpulkan (Inference). Tahap menyimpulkan terdiri dari tiga indikator (1) membuat deduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi, (2) membuat induksi dan mempertimbangkan hasil induksi, dan (3) membuat dan mempertimbangkan nilai keputusan. 
4.    Klarifikasi Lebih Lanjut (Advanced Clarification). Tahap ini terbagi menjadi dua indikator yaitu (1) mengidentifikasikan istilah dan mempertimbangkan definisi dan (2) mengacu pada asumsi yang tidak dinyatakan.
5.  Dugaan dan Keterpaduan (Supposition and Integration). Tahap ini terbagi menjadi dua indikator (1) mempertimbangkan dan memikirkan secara logis premis, alasan, asumsi, posisi, dan usulan lain yang tidak disetujui oleh mereka atau yang membuat mereka merasa ragu-ragu tanpa membuat ketidaksepakatan atau keraguan itu mengganggu pikiran mereka, dan (2) menggabungkan kemampuan kemampuan lain dan disposisi-disposisi dalam membuat dan mempertahankan sebuah keputusan.
Sedangkan menurut Fisher (dalam Rahmawati, 2011:8), indikator kemampuan berpikir kritis antara lain adalah sebagai berikut:
1.      Mengidentifikasi unsur-unsur dalam kasus beralasan, terutama alasan-alasan dan kesimpulan-kesimpulan.
2.     Mengidentifikasi dan mengevaluasi asumsi-asumsi.
3.    Memperjelas dan menginterpretasikan pernyataan-pernyataan dan ide-ide.
4.    Mengadili penerimaan, terutama kredibilitas, dan klaim-klaim.
5.    Mengevaluasi argumen-argumen yang beragam jenisnya.
6.   Menganalisis, mengevaluasi, dan menghasilkan penjelasanpenjelasan.
7.    Menganalisis, mengevaluasi, dan membuat keputusan-keputusan.
8.   Menyimpulkan.
9.   Menghasilkan argumen-argumen.
Sintak inovasi yang dibuat
Materi             : Laju Reaksi
Model             : Problem Based Learning (PBL)
Pertemuan     : 1
No
Sintak Model PBL
No
Sintak inovasi model
Dampak Berpikir Kritis
1
Mengorganisasikan siswa pada masalah
1
Memberikan orientasi kepada siswa mengenai permasalahan dalam kehidupan sehari-hari
Siswa mampu mengidentifikasi permasalahan dari sudut pandang yang berbeda dan memberikan pertanyaan yang kritis terkait permasalahan
Memberikan apersepsi mengenai kaitannya materi yang akan dipelajari dengan materi sebelumnya
Memberikan motivasi, menggiring siswa untuk dapat mengetahui manfaat belajar laju reaksi dalam kehidupan sehari hari
Memberikan acuan
2
Mengorganisasikan siswa untuk belajar
2
Membagi siswa untuk berkelompok secara heterogen
Siswa mampu mengatur strategi teknik dan taktik dalam proses belajar dan dapat berinteraksi antar siswa
Mengenalkan dahulu model atau langkah pembelajaran yang akan dilakukan siswa selama proes pembelajaran
Memberikan LKPD berbasis proyek materi factor laju reaksi kepada masing-masing kelompok
3
Mengorganisasikan siswa untuk meneliti informasi yang didapatkan bersumber dari literatur, buku dan internet terkait factor yang mempengaruhi laju reaksi
Siswa mampu untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis.
4
Memberikan siswa suatu fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari dan meminta siswa untuk mengajukan pertanyaan mengenai factor yang mempengaruhi laju reaksi
Siswa mampu memandang atau menafsirkan sebuah fenomena dari berbagai sudut pandang yang berbeda
5
Siswa mengidentifikasi kata-kata yang sulit untuk dipahami dari materi tersebut kemudian salah satu siswa dalam kelompoknya mencatat kata-kata yang masih belum dimengerti tersebut.
Siswa mampu menjelaskan dengan berbagai sudut pandng yang berbeda dan kemudian difinalkan oleh guru
Anggota kelompok mendiskusikan dan menjelaskan masalah tersebut berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki.
3
Membantu penyelidikan mandiri dan kelompok
6
Membantu membimbing penyelidikan individual dan kelompok. Kegiatan pembelajaran pada tahap ini dapat digambarkan melalui kegiatan setiap kelompok untuk mendiskusikan tujuan, alat dan bahan, dan prosedur praktikum yang akan digunakan untuk mencari jawaban pertanyaan yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Salah satu kelompok mempresentasikan prosedur praktikum yang diajukan dan meminta kelompok yang lain memberikan komentar untuk mendiskusikan prosedur yang tepat dalam menjawab rumusan pertanyaan. Guru membatasi prosedur praktikum yang diajukan sesuai dengan ketersediaan alat dan bahan sampai terjadi kesepakatan mengenai prosedur yang akan dijalankan. Kegiatan selanjutnya yaitu pelaksanaan praktikum. Guru menginstruksikan setiap kelompok untuk mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan. Guru membimbing siswa dalam melaksanakan praktikum.
Siswa mampu merumuskan masalah, menentukan keputusan yang akan diambil, dan mengindentifikasikan asumsi atau perkiraan-perkiraan.
4
Mengembangkan dan menyajikan hasi karya dan memamerkannya
7
Setelah melakukan percobaan guru meminta perwakilan kelompok untuk menyajikan atau mempresentasikan hasil-hasil diskusi (karyanya) mengenai percobaan yang telah dilakukan di depan kelas.
Siswa dapat melaporkan hasil pengamatan berdasarkan argumennya sendiri baik secara mandiri maupun kelopok berdasarkan fakta dari hasil penyelidikan
Meminta kelompok lain untuk memperhatikan sajian/paparan hasil karya dari kelompok yang mempresentasikan, mencermati, dan membandingkan dengan hasil dari kelompoknya sendiri.
Membimbing siswa dalam melakukan dan mempresentasikan hasil diskusi
Guru menilai keaktifan siswa (individu dan kelompok) dalam kelas saat presentasi berlangsung
5
Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah
7
 Setelah melakukan tahap diskusi, guru meminta siswa menceritakan kembali hasil percobaan atau refleksi diri
 Siswa mampu untuk merangkum kesimpulan dari satu atau beberapa premis pernyataan dan fenomena yang ditampilkan dan dikerjakan
Guru memberikan posttest
Guru memberikan tugas membuat laporan hasil percobaan.
Berdasarkan artikel diatas dan inovasi sintaks yang telah saya buat apa komentar dan saran saudara/i terhadap inovasi yang saya buat ? sudahkah ada keterkaitan antara inovasi yang saya buat dengan indikator kemampuan berpikir kritis ? dan efektifkah inovasi sintaks ini jika langsung diterapkan dalam proses pembelajaran ?







Komentar

  1. menurut saya sintaks PBL yang Anda buat sama dgn sintaks PBL konvensional. didalam inovasi sintaks Anda hanya menjelaskan pengembangan indikator" dari sintaks PBL konvensional. seharusnya yg diinovasikan adalah ke-5 sintaks dari PBL tsb mau anda kurangin atau anda tambahkan boleh" saja

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan Rina inovasi sintaks PBL yang anda buat tidak jauh berbeda dengan metode PBL sebelumnya tapi ini sah sah saja. Namun saya mau sedikit menyarankan sebaiknya pada pengajuan permasalahan lebih dibuat atau dispesifikan permasalahan bagaimana yang akan di lemparkan kepada siswa.

      Hapus
    2. saya juga sependapat dengan teman-teman inovasi sintak yang rini buat terkesan merupakan penajabaran dari sintak konvensional dari model PBL. namun saya tetap mengerti maksud dari inovasi sintak tersebut. akan lebih baik bila tampilan inovasi sintak diberi judul ataupun perubahan dari judul pada sintak konvensional sebelum kegiatan yang dilakukan guru, sehingga kesan tersubut dapat dihilangkan.
      selanjutnya tingkat efektif atau tidaknya inovasi sintak yang telah dibuat dapat diketahui dengan melakukan uji coba bisa saja dalam kelompok kecil, bila hasilnya menunjukkan peningkatan pada kemampuan berpikir kritis siswa barulah bisa diterapkan secara langsung dalam pembelajaran.

      Hapus
    3. Saya juga sependapat dengan teman teman. Inovasi yg rini buat sudah cukup baik namun disini sepertiny blum bisa memunculkan kemampuan siswa dalam beepikir kritis. Mungkin lebih baik jika di tambah sintaks inkuiri yaitu belajar menemukan sesuatu dan melakukan permbuktian.

      Hapus
    4. sependapat dengan teman-teman diatas. sintaks nya masih sama hanya pengembangan pada beberapa bagian, namun ruh dari sintak aslinya masih terasa.. ada baiknya kalau memang mau dibuat seperti ini, lebih didetailkan lagi bagian-bagiannya.

      Hapus
  2. menurut saya inovasi sintaks model yang dikembangkan oleh rini bagus. Namun alangkah bagusnya pada tahap pengorganisasian siswa pada masalah dituliskan bentuknyata permasalahan yang akan disampaikan.
    Kemudia efektif atau tidaknya suatu inovasi model pembelajaran dapat dinilai setelah uji coba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan esa, bahwa inovasi sintaks model yang dibuat oleh rini sudah bagus, selanjutnya tingkat efektif atau tidaknya inovasi sintak yang telah dibuat dapat diketahui dengan melakukan uji coba.

      Hapus
  3. menurut saya yang rini buat sudah cukup baik, namun hasil modifikasinya belum nampak jelas kegiatan yang dirancang tersebut dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, slah satunya indikator berpikir kritis yakni dapat berpikir berdasarkan logika konsisten dan didukung dengan bukti yang relevan dan kredibel, nah dalam sintaks tsb belum terlihat, kemudian berpikir kritis itu kan lebih mengarah ke kemampuan berpikir tingkat tinggi, terutama pada zaman revolusi industri 4.0, maka dari itu dlaam proses belajar sebaiknya siswa diberikan masalah yang lebih kompleks lagi untk diselesaikan agar kemampaun bernalarnya terasah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat kk rini, jika perlu buat LKPD untuk membantu memberikan suatu permasalahannya

      Hapus
    2. Saya setuju dengan pendapat rini dan tri bahwa memang masih belum kelihatan hasil inovasi yg memicu kemampuan berpikir kritis siswa dan jika perlu memang bisa tambahkan LKPD agar dapat menuntut siswa memecahkan masalah

      Hapus
    3. menanggapi dari kak tri dan kak melda, bahwa sarannya perlu buat LKPD untuk membantu memberikan suatu permasalahannya disana sudah saya gunakan LKPD pada bagian mengorganisasikan siswa untuk belajar

      Hapus
  4. Sependapat dengan teman-teman bahwa perlu membuat LKPD untuk membantu memberikan suatu permasalahan dalam kegiatan pembelajaran

    BalasHapus

  5. Berdasarkan artikel diatas dan inovasi sintaks yang telah saya buat apa komentar dan saran saudara/i terhadap inovasi yang saya buat ?
    Saya belum begitu melihat indikator berpikir kritis, terutama dibagian tahap "Meminta kelompok lain untuk memperhatikan sajian/paparan hasil karya dari kelompok yang mempresentasikan, mencermati, dan membandingkan dengan hasil dari kelompoknya sendiri", disini mreka hanya melihat, membandingkan dengan yg ia buat, tpi tidak diberikan kesempatan bertanya menyanggah atau semacamnya yg membuat sikap kritisinya muncul.

    BalasHapus
  6. Menurut saya sintak yg saudari rini buat sudah cukup baik, tp sarannya agar sintak yg dibuat lebih mengacu untuk siswa bepikir kritisnya belum terlihat, sebaiknya bisa di tambahkan LKPD dengan berbagai permasalah yang harus di selesaikan siswa.

    BalasHapus

Posting Komentar