Langsung ke konten utama

Materi 14



Model Pembelajaran Learning Cycle 5E

 Model berbasis 5E adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) yang merupakan rangkaian tahap-tahap kegiatan yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga siswa dapat menguasai kompetensi yang harus dicapai dalam pembelajaran dengan berperan aktif. Tahapan 5E itu terdiri atas tahap (a) pembangkitan minat (engagement), (b) eksplorasi (exploration), (c) penjelasan (explanation), (d) elaborasi (elaboration), dan (e) evaluasi (evaluation).
Tahapan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E
Tahapan belajar terdiri dari lima fase (5E) yang saling berhubungan satu sama lainnya, yaitu (Wena, 2009):
a.       Fase Pembangkitan Minat (Engagement)
Tahap pembangkitan minat merupakan tahap awal dari siklus belajar. Pada tahap ini, guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingintahuan siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan tentang proses faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik bahasan). Dengan demikian, siswa akan memberikan respons/ jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dapat dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengetahuan awal siswa tentang pokok bahasan. Kemudian guru perlu melakukan identifikasi ada/ tidaknya kesalahan konsep pada siswa. Dalam hal ini guru harus membangun keterkaitan/ perikatan antara pengalaman keseharian siswa dengan topik yang akan dibahas.
b.      Fase Eksplorasi (Exploration)
Eksplorasi merupakan tahap kedua model siklus belajar. Pada tahap eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4 siswa, kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru. Dalam kelompok ini siswa didorong untuk menguji hipotesis dan atau membuat hipotesis baru, mencoba alternatif pemecahannya dengan teman sekelompok, melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi. Pada tahap ini guru berperan sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah, sebagian benar.
c.       Fase Penjelasan (Explanation)
Penjelasan merupakan tahap ketiga siklus belajar. Pada tahap penjelasan, guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat/ pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antarsiswa atau guru. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi.
d.      Fase Elaborasi (Elaboration)
Elaborasi merupakan tahap keempat siklus belajar. Pada tahap elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yang telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian, siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan/ mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya dalam situasi baru. Jika tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motivasi belajar siswa tentu dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.
e.       Fase Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi merupakan tahap akhir dari siklus belajar. Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, dan penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan guru sebagai bahan evaluasi tentang penerapan metode siklus belajar yang sedang diterapkan, apakah sudah berjalan dengan sangat baik, cukup baik, atau masih kurang. Demikian pula melalui evaluasi diri, siswa akan dapat mengetahui kekurangan atau kemajuan dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan.
Kemampuan Berpikir Kreatif
Sudarma (2016) Kreativitas adalah sebuah keterampilan hidup (life skill) atau merupakan sebuah kecerdasan tertentu yang dimiliki manusia. Bila orang kreatif ditanya mengenai kreativitas, dia akan mampu mengemukakan pandangan kratifnya sendiri. Kemampuan kreatifnya atau kemampuan berpikir kreatifnya itu, akan menyebabkan individu kreatif itu mampu melahirkan ide atau gagasan baru atau gagasan kreatif mengenai sesuatu hal yang tengah dibicarakannya itu sendiri.
Kreativitas dapat dilihat dalam empat aspek yaitu :
1.  Kreativitas dimaknai sebagai sebuah kekuatan atau energi (power) yang ada dalam diri individu.
Energi ini menjadi daya dorong bagi seseorang untuk melakukan sesuatu dengan cara atau untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Dalam kaitan ini, kita dapat merujuk pada salah satu pendapat mengenai kreativitas.
Menurut Robert (1994), ada tiga dorongan yang menyebabkan orang bisa kreatif, yaitu (1) kebutuhan untuk memiliki sesuatu yang baru, bervariasi dan lebih baik, (2) dorongan untuk mengomunikasi nilai dan ide, serta (3) keinginan untuk memecahkan masalah.
2.      Kreativitas dimaknai sebagai sebuah proses.
Kreativitas adalah proses mengelola informasi, melakukan seuatu atau membuat sesuatu. Kreativitas adalah proses. Dalam kamus, kreativitas diartikan “involving the use of skill and the imagination to produce something new or a work of art”. Kreativitas yaitu melibatkan penggunaan keterampilan dan imajinasi untuk menghasilkan sesuatu yang baru atau sebuah karya seni.
Kreativitas adalah suatu proses yang menghasilkan sesuatu yang baru, apakah suatu gagasan atau suatu objek dalam suatu bentuk atau susunan yang baru (Hurlock, 1987). Kreativitas adalah suatu proses yang tercermin dalam kelancaran, kelenturan (fleksibilitas), dan originalitas dalam berpikir (Munandar, 1977).
3.      Kreativitas adalah sebuah produk
Penilaian orang lain, terhadap kreativitas seseorang, akan diakitkan dengan produknya. Maksud dari produk ini, bisa dalam pengertian produk pemikiran (ide), karya tulis, atau produk dalam pengertian barang. Dengan merujuk pandangan dari sumardjan (1983), Basuki (1993) mengatakan bahwa kreativitas atau daya kreasi itu dalam masyarakat yang progresif dihargai sedemikian tingginya dan dianggap begitu penting sehingga untuk memupuk dan mengembangkannya dibentuk laboratorium atau bengkel-bengkel khusus yang tersedia tempat, waktu dan fasilitas yang diperlukan (Sumardjan, 1983).
4.      Kreativitas dimaknai sebagai person.
Kreatif ini tidak dialamatkan pada produknya, pada prosesnya, atau pada energinya. Kreativitas dimaknakan pada individunya. Menurut Sternberg (1986) (dalam Afifa, 2007) seseorang yang kreatif adalah orang yang dapat berpikir secara sintesis, artinya dapat melihat hubungan-hubungan dimana orang lain tidak mampu melihatnya, dan mempunyai kemampuan untuk menganalisis ide-idenya sendiri serta mengevaluasi nilai teori dan hal-hal yang abstrak ke dalam ide-ide praktis, sehingga individu mampu meyakinkan orang lain mengenai ide-ide yang akan dikerjakannya.
Berdasarkan informasi itu, dapat disimpulkan bahwa kreativitas adalah kecerdasan yang berkembang dalam diri individu, dalam bentuk sikap, kebiasaan, dan tindakan dalam melahirkan sesuatu yang baru dan orisinal untuk memecahkan masalah. Definisi itu, secara tidak langsung, ingin mengacunya pada pendekatan sistem mengenai kreativitas.
Aspek pada Kemampuan Berpikir Kreatif
Menurut Jazuli (2009) menyebutkan ciri berfikir kreatif antara lain: fluency, flexibility, elaboration, dan originality. Adapun penjelasan adalah sebagai berikut.
a.       Fluency (kelancaran) adalah kemampuan membangun banyak ide. Semakin banyak peluang yang didapat, maka semakin banyak peluang untuk mendapatkan ide-ide yang bagus.
b.   Flexibility (keluwesan) adalah kemampuan membangun ide yang beragam yaitu kemampuan untuk mencoba berbagai pendekatan dalam memcahkan masalah.
c.   Originality (keaslian) adalah kemampuan untuk menghasilkan ide-ide yang luar biasa yang tidak umum.
d. Elaboration (elaborasi) adalah kemampuan untuk memotong, mengembangkan atau membubuhi ide atau produk.
Sub Indikator
Kemampuan berpikir lancar
menimbulkan ide atau gagasan serta jawaban dalam menyelesaikan suatu masalah
melakukan pekerjaan dengan benar dan tepat waktu
Kemampuan berpikir luwes
tanggap dalam menghadapi masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda
menimbulkan banyak gagasan yang bervariasi
mampu memecahkan masalah dengan menerapkan konsep, sifat ataupun aturan
Kemampuan berpikir orisinil
mampu mengungkapkan hal atau ide yang baru dan unik
memikirkan cara yang kreatif untuk mengungkapkan sesuatu
Kemampuan berpikir detail (elaborasi)
Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain
Membuat laporan dengan detail dan berbeda
Inovasi Sintaks yang Saya Buat
Model Pembelajaran : Learning Cycle 5E
Materi                         : Laju Reaksi
Model Konvensional (Learning Cycle 5E)
Inovasi Sintaks Model Learning Cycle 5E
Dampak Berpikir Kreatif
Pembangkitan Minat (engagement)
Orientasi

Guru membangkitkan minat dan keingintahuan siswa
Guru mengkondisikan siswa agar siap melaksanakan proses pembelajaran

Guru mengajukan pertanyaan tentang proses actual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik pembahasan)
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan beberapa pertanyaan mengenai pengetahuan sebelumnya yang berhubungan dengan materi factor-faktor laju reaksi
· Siswa tanggap dalam menghadapi masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda (aspek kemampuan berpikir luwes)
· Menimbulkan gagasan yang bervariasi (aspek kemampuan berpikir luwes)
Guru mengaitkan topik yang dibahas dengan pengalaman siswa, mendorong siswa untuk mengingat pengalaman sehari-harinya dan menunjukkan keterkaitannya dengan topik pembelajaran yang dibahas.

Pembangkitan Minat (engagement)


Guru memberikan motivasi melalui berbagai fenomena yang berkaitan dengan pengalaman siswa dan mengajukan pertanyaan tentang proses factual dalam kehidupan sehari-hari “pernahkah kalian membakar kayu?” mengapa serpihan kayu terbakar lebih cepat dibandingkan dengan balok kayu?”
· Menimbulkan gagasan yang bervariasi (aspek kemampuan berpikir luwes)
· Memikirkan cara yang kreatif untuk mengungkapkan sesuatu (aspek kemampuan berpikir orisinil)

Guru dan siswa bertukar ide tentang konsep baru yang akan dipelajari yaitu materi laju reaksi
· Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain ((aspek kemampuan berpikir detail)
·   Menimbulkan keinginan untuk mengetahui lebih jauh materi yang sedang dipelajari (aspek rasa ingin tahu)
Eksplorasi (exploration)
Eksplorasi (exploration)

Guru membentuk kelompok, memberi kesempatan untuk bekerjasama dalam kelompok kecil secara mandiri
Guru membentuk kelompok yang heterogen

Guru berperan sebagai fasilitator
Guru memberikan LKS dan memberikan penjelasan prosedur praktikum

Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri
Guru membimbing dan memotivasi siswa untuk membuat hipotesis awal dan melakukan uji hipotesis melalui praktikum
· Melakukan pekerjaan dengan benar dan tepat waktu (aspek kemampuan berpikir lancar)
·   Menimbulkan keinginan untuk mengetahui lebih jauh materi yang sedang dipelajari (aspek rasa ingin tahu)
· Melibatkan diri dalam melakukan diskusi (aspek bersikap merasa tertantang)
Meminta bukti dan klarifikasi penjelasan siswa, mendengar secara kritis penjelasan antarsiswa
Guru membantu dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menunjukkan pemahaman konsep, keterampilan proses, atau perilaku yang seharusnya siswa lakukan
·Tanggap dalam menghadapi masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda (aspek kemampuan berpikir luwes)
· Menimbulkan gagasan yang bervariasi (aspek kemampuan berpikir luwes)
·   Mampu mengungkapkan hal atau ide yang baru dan unik (aspek kemampuan berpikir orisinil)
Memberi definisi dan penjelasan dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar berdiskusi
Guru memfasilitasi siswa untuk melakukan dan mencatat pengamatan serta ide-ide atau pendapat yang berkembang dalam diskusi
Membuat laporan dengan detail dan berbeda (aspek kemampuan berpikir detail)
Penjelasan (explanation)
Penjelasan (explanation)

Mendorong siswa untuk menjelaskan konsep dengan kalimat mereka sendiri
Guru membimbing siswa melakukan diskusi kelompok tentang praktikum factor yang mempengaruhi laju reaksi yang telah dilakukan
Mampu memecahkan masalah dengan menerapkan konsep, sifat, ataupun aturan (aspek kemampuan berpikir luwes)
Meminta bukti dan klarifikasi penjelasan siswa
Mendorong dan membimbing siswa untuk menjelaskan konsep yang didapat dari hasil diskusi dengan kalimat sendiri
·   Mampu mengungkapkan hal atau ide yang baru dan unik (aspek kemampuan berpikir orisinil)
· Menimbulkan banyak gagasan yang bervariasi (aspek kemampuan berpikir luwes)
· Memikirkan cara yang kreatif untuk mengungkapkan sesuatu (aspek kemampuan berpikir orisinil)
Mendengar secara kritis penjelasan antarsiswa atau guru
Meminta bukti dan klarifikasi dari penjelasan siswa dan saling mendengar secara kritis penjelasan antarsiswa atau guru
· Menimbulkan ide atau gagasan serta jawaban dalam menyelesaikan suatu masalah (aspek kemampuan berpikir lancar)
·Tanggap dalam menghadapi masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda (aspek kemampuan berpikir luwes)
·Mampu mengungkapkan hal atau ide yang baru dan unik (aspek kemampuan berpikir orisinil)
Memandu diskusi
Guru memberikan definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas dengan menggunakan penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi
Mengembangkan dan memperkaya gagagsan siswa
Pengayaan (elaboration)
Pengayaan (elaboration)

Mengingatkan siswa pada penjelasan alternative dan mempertimbangkan data/bukti saat mereka mengeksplorasi situasi baru
Guru memberikan suatu permasalahan baru yang penyelesaiannya identik
· Menimbulkan ide atau gagagsan serta jawaban dalam menyelesaikan suau masalah (aspek kemampuan berpikir lancar)
·Tanggap dalam menghadapi masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda (aspek kemampuan berpikir luwes)
Mendorong dan memfasilitasi siswa mengaplikasikan konsep/keterampilan dalam setting yang baru/lain
Guru membimbing dan memfasilitasi siswa untuk memecahkan permasalahan yang diberikan dengan menggunakan konsep dan keterampilan yang baru didapat
Mampu memecahkan masalah dengan menerapkan konsep,sifat ataupun aturan (aspek kemampuan berpikir luwes)
Evaluasi (evaluation)
Refleksi (reflection)

Mengamati pengetahuan atau pemahaman siswa dalam hal penerapan konsep baru

Mengarahkan siswa untuk melakukan refleksi diri melalui self-evaluationterhadap proses pembelajaran yang telah mereka lakukan

Memberikan gagasan bervariasi (aspek berpikir luwes)
Mendorong siswa melakukan evaluasi diri
Mendorong siswa memahami kekurangan/kelebihan nya dalam kegiatan pembelajaran

Evaluasi (evaluation)


Guru mengevaluasi kemajuan belajar siswa dan mereview hasil kerja siswa pada saat diskusi dan memberikan beberapa pertanyaan

Memberikan gagasan bervariasi (aspek berpikir luwes)

Guru memberikan penguatan konsep terhadap siswa atas pemecahan masalah yang baru ditemukan


Mendorong siswa memahami kekurangan/kelebihan nya dalam kegiatan pembelajaran

Permasalahan :
     Bagaimana tanggapan teman sekalian dengan inovasi model pembelajaran learning cycle 5e dengan berpikir kreatif ? dari model CTL, PBL, PJBL dan Learning Cycle 5E ini manakah yang lebih cocok dengan berpikir kreatif ? dan berikan saran serta tanggapan teman sekalian pada inovasi saya.



Komentar

  1. menurut saya inovasi sintak yang rini buat sudah baik, dimana pada sintak eksplorasi dibuat proses pembelajaran dengan melakukan praktikum sehingga pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa serta terlihat dari sintak juga guru disini lebih banyak membimbing siswa dalam proses pembelajaran sehingga memang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa karena siswa melakukan sendiri. sedikit saran untuk tahap evalusi memang sudah dilakukan evaluasi diri dan review hasil kerja, mungkin bisa juga dengan menggunakan tes esay, untuk mengetahui apakah siswa sudah benar-benar paham dengan materi yang telah dipelajarinya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sependapat dengan fira bahwa inovasi sintak yang rini buat sudah baik, dimana pada sintak eksplorasi dibuat proses pembelajaran dengan melakukan praktikum sehingga pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa serta terlihat dari sintak juga guru disini lebih banyak membimbing siswa dalam proses pembelajaran sehingga memang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa karena siswa melakukan sendiri

      Hapus
  2. Menurut saya semua model yang anda sebutkan bisa dikatakan memunculkan berfikir kreatif asal konsep yang ditimbulkan itu memiliki prinsip yang terbarukan baik ide maupun projek yang dimunculkan oleh masing-masing siswa namun apabila gagasannya sudah pernah di bicarakan sebelumnya maka itu belum memunculkan berfikir kreatif

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya sependapat dengan fanny, model yang berbasis student centered seperti CTL,PBL,PjBL, LC 5E tentu saja dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa baik itu kreatif maupun kritis, tergantung apa yang inign dimunculkan guru dan ingin ditingkatkan, tapi jika ditelisik yang mungkin akan sangat ideal untuk berpikir kreatif yakni PjBL dan CTL. karena pada model ini siswa bebas untuk mengaplikasikan konsep yanng dimilikinya menjadi sebuah produk/solusi yang mngkin saja belum ada sebelumnya.

      Hapus
    2. baiklah, berarti menurut kak rini, model yang sangat ideal untuk berpikir kreatif yakni PjBL dan CTL. apakah model learning cycle 5e ini tidak cocok dengan berpikir kreatif ? padahal model pembelajaran learning cycle 5e lebih antusias belajar karena siswa diberikan kesempatan penuh untuk mengemukakan ide dan mencari alternatif pemecahan masalah dengan teman sekelompok. Artinya, dengan menerapkan model learningcycle 5e siswa akan mampu memecahkan permasalahan yang muncul dengan cara yang dibuatnya sendiri berdasarkan konsep yang ada dan menggabungkannya dengan hasil percobaan yang dilakukan/fenomena/video yang ditampilkan guru, dalam model ini juga siswa memiliki kesempatan untuk bekerja sama dalam tim, berbagi pandangan dan pendapat, terlibat dalam pemikiran yang berhubungan dengan kinerja matematik, menyelesaikan masalah dengan solusi yang bervariasi, sehingga dapat meningkatkan kreativitas siswa namun tetap dalam bimbingan guru.

      Hapus
  3. menurut saya inovasi sintaks dari rini sudah bagus, saran saya untuk refleksi baiknya dibuat setelah evaluasi karena tujuan refleksi ini untuk mengetahui sejauh mana minat peserta didik mengikuti pembelajaran, untuk mengetahu keberhasilan strategi, model, metode, pendekatan yang guru terapkan, kemudian untuk mengetahui keinginan dan kebutuhan peserta didik sehingga guru bisa merancang pembelajaran pada pertemuan selanjutnya, dan juga mengidentifikasi kekurangan dan kemampuan guru dalam menyajikan materi dan menguasai kelas.

    BalasHapus
  4. Menurut saya inovasi yang rini buat sudah baik, hanya saja sedikit menambahkan atau saran di tahap akhir evaluasi/refleksi bisa ditambahkan tes sessay dimana kita perlu melihat damapak dari penerqpan 5E terhadap kemmapuan berpikir kreatif siswa agar bisa trukur pengaruh ataupun hubungan

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya setuju dengan pendapat kk melda, bahwa dengan menambahkan evaluasi berupa tes essay, guru bisa melihat seberapa efektifnya model tersebut dengan berpikir kreatif

      Hapus
  5. Menurut saya inovasi sintaks model yang dibuat oleh rini sudah baik diterapkan dalam proses pembelajaran dan sudah cocok dengan materi yang dikaitakan yaitu laju reaksi, model ini juga dapat menimbulkan kemampuan berpikir kreatif namun saran saya untuk lebih meningkatkan kemampuan berpikir kreatif lagi dibutuhkan tes essay.

    BalasHapus
    Balasan
    1. apakah hanya dengan memberikan tes essay saja untuk lebih meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa ?

      Hapus
  6. menurut saya, inovasi sintaks yang Anda buat sudah bagus namun pada poin merumuskan hipotesis seharusnya Anda juga memberikan poin menguji jawaban sementara. sehingga dari jawaban sementara td siswa tidak sulit untuk menyimpulkan atau mendapatkan konsep dari materi laju reaksi sehingga nanti pada tahap elaborasi siswa terpandu untuk menyelesaikan permasalahan yang identik dgn materi

    BalasHapus
  7. Jika di lihat dari sintak sintak nya. Yg cocok untuk kemampuan brrpikir kreatif adalah model PJBL. Karena seperti yg sudah yg bilang PJBL berlajar berbasis proyek. Adanya produk yg harus siswa selesaikan. Sedangkan untuk 5e ini prosesnya bersiklus. Dan juga lebih ke proses keterampilan proses dalam brlajar. Terlihat pada tahap tahapnya di exploration.siswa benar2 mengeksplor atau mencari tau dan melakukan sesuatu untuk membuktikan atau mencari tau atau jawaban atas permasalahan yg sudah mereka tenttukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. padahal kan model pembelajaran learning cycle 5e lebih antusias belajar karena siswa diberikan kesempatan penuh untuk mengemukakan ide dan mencari alternatif pemecahan masalah dengan teman sekelompok. Artinya, dengan menerapkan model learningcycle 5e siswa akan mampu memecahkan permasalahan yang muncul dengan cara yang dibuatnya sendiri berdasarkan konsep yang ada dan menggabungkannya dengan hasil percobaan yang dilakukan/fenomena/video yang ditampilkan guru, dalam model ini juga siswa memiliki kesempatan untuk bekerja sama dalam tim, berbagi pandangan dan pendapat, terlibat dalam pemikiran yang berhubungan dengan kinerja matematik, menyelesaikan masalah dengan solusi yang bervariasi, sehingga dapat meningkatkan kreativitas siswa namun tetap dalam bimbingan guru. bagaimana ?

      Hapus

  8. Bagaimana tanggapan teman sekalian dengan inovasi model pembelajaran learning cycle 5e dengan berpikir kreatif ?
    Menurut sya inovasi yg saudari buat sudah baik, dan secara teori seharusnya sudh sesuai dengan berpikir kreatif karna saudari telah mencocokkan inovasi yg dibuat tsb

    BalasHapus
  9. menurut saya inovasi sintak yang rini buat sudah baik, dimana pada sintak eksplorasi dibuat proses pembelajaran dengan melakukan praktikum sehingga pembelajaran akan lebih bermakna bagi siswa. untuk berfikir kreatif menurut saya lebih cocok model PjBL. karena memberi kesempatan kepada siswa untuk mengeksplor dirinya seluas-luasnya.

    BalasHapus

Posting Komentar