Persentasi Inovasi Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual
dan Dampaknya terhadap Kemampuan Berpikir kreatif
Konsep Dasar
Pembelajaran Kontekstual
Nurhadi
dalam Rusman (2014) mengatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching
and Learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan
antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong
siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya
dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Untuk
memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa, tentu saja
diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa
untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), dan bahkan
sekedar pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang
disampaikan guru.
Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apapun,
bidang studi apapun, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Model pembelajaran
CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus
ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
Fase 1
Guru
menjelaskan kompetensi yang harus dicapai siswa serta manfaatnya dari proses
pembelajaran serta pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari. Guru
menggali pengetahuan awal siswa serta menganalisis miskonsepsi siswa
(Konstruktivism).
Fase 2
Siswa
dibagi dalam beberapa kelompok kecil.Guru menyajikan model atau fenomena dan
setiap kelompok diberi tugas untuk melakukan observasi. Melalui observasi yang
dilakukan, siswa ditugaskan diminta untuk menyampaikan gagasan yang dimilikinya
terkait dengan materi yang dipelajari dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang disampaikan guru (Modelling).
Fase 3
Guru
melakukan tanya jawab seputar tugas yang harus dilakukan oleh setiap kelompok
siswa guna mencapai tujuan pembelajaran (Questioning).
Fase 4
Siswa
melakukan observasi dan mencatat hasil observasinya dengan menggunakan alat
observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya. Siswa menganalisis hasil
observasinya (Inquiry).
Fase 5
Siswa
mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompok masing-masing.
Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusinya dalam pleno kelas. Setiap
kelompok menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lainnya (Learning
Community).
Fase 6
Dengan
bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasinya. Simpulan tersebut
merupakan pengetahuan atau keterampilan baru yang diperoleh dalam proses
pembelajaran melalui penemuan.
Fase 7
Guru
melakukan penilaian autentik dan memberi tugas kepada siswa untuk meningkatkan
pemahaman, memperluas dan memperdalam pengetahuan berkaitan dengan topik yang
telah dipelajari. Siswa juga melakukan refleksi diri (Authentic assessment).
Komponen Utama Model Pembelajaran Kontestual
Menurut Trianto (2014) pembelajaran kontekstual
melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu, Constructivism (konstruktivisme),
Inquiry (menemukan) , Questioning (bertanya), Learning Community (masyarakat
belajar), Modeling (pemodelan), Reflection (refleksi) dan Authentic Assessment
(penilaian yang sebenarnya).
1. Konstruktivisme
(Constructivism)
Konstruktivistik merupakan landasan pendekatan
kontekstual. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang
hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dalam
kontruktivistik, strategi lebih diutamakan dibanding seberapa banyak peserta
didik memperoleh dan mengingat pengetahuan. Dalam kontruktivis, lebih
diutamakan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk
itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara:
a)
Menjadikan pengetahuan bermakna bagi siswa
b)
Memberikan kesempatan siswa menemukan dan
menerapkan idenya sendiri
c)
Menyadarkan siswa menerapkan strategi mereka
sendiri dalam belajar.
2. Pemodelan
(Modelling)
Dalam suatu pembelajaran keterampilan atau
pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru siswa, misalnya cara
mengoperasikan suatu mesin, guru mendatangkan ahlinya kesekolah agar peserta
didik dapat menirunya dan lain seba gainya. Pembelajaran kontekstual guru bukan
satu-satunya model. Pemodelan dirancang dengan melibatkan siswa. Model juga dapat
didatangkan dari luar yang ahli dibidangnya.
3. Bertanya
(questioning)
Bertanya adalah induk dari strategi pembelajaran
kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan dan aspek penting
dari pembelajaran. Guru menggunakan questioning (bertanya) untuk menuntun siswa
berpikir bukannya penjejalan berbagai informasi penting yang harus dipelajari
siswa. Bertanya digunakan sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing,
dan menilai kemampuan berpikir siswa. Inti dari penerapan bertanya (questioning):
a) Mendorong
siswa untuk mengetahui sesuatu
b) Mengarahkan
siswa untuk memperoleh informasi
c)
Melatih siswa untuk berpikir kritis
4. Menemukan
(inquiry)
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh
peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi
hasil menemukan sendiri. Guru harus merancang suatu pembelajaran dalam bentuk
kegiatan nememukan (inquiri) dalam bentuk apapun materinya yang diajarkan.
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis
kontekstual, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan
dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan
sendiri. Siklus inquiry:
a) Observasi
(Observation)
b) Bertanya
(Questioning)
c)
Mengajukan dugaan (Hipotesis)
d) Pengumpulan
data (Data gathering)
e) Penyimpulan
(Conclussion)
5. Masyarakat
Belajar (Learning Community)
Masyarakat belajar artinya bahwa seseorang kaya
dengan pengetahuan dan pengalaman tatkala mereka banyak belajar dari orang
lain, dalam masyarakat belajar hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerja
sama dengan orang lain dengan sharring antar teman, antar kelompok dan mereka
yang tahu ke yang belum tahu.Masyarakat belajar dapat dilakukan dengan
menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam beberapa
kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan maupun
bakat dan minatnya. Praktik dalam pembelajaran ”masyarakat belajar” terwujud
dalam:
a) Pembentukan
kelompok kecil
b) Pembentukan
kelompok besar
c) Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh, olahragawan,
dokter, budayawan, petani, perawat, polisi, dll)
d) Bekerja
dengan kelas sederajat
e) Bekerja
kelompok dengan kelas yang diatasnya
f) Bekerja dengan masyarakat
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan guru/pelajar menghubungkan
antara pengetahuan peserta didik yang telah dimiliki sebelumnya dengan
pengetahuan yang baru diterima. Pada akhir pembelajaran, pembelajar menyisakan
waktu sejenak agar peserta didik melakukan refleksi, berupa pertanyaan langsung
tentang apa-apa yang diperolehnya hari ini, catatan atau jurnal dari buku
peserta didik, kesan dan saran peserta didik mengenai pembelajaran hari itu.
7. Penilaian yang
sebenarnya (Authentic Assesment)
Prosedur penilaian otentik adalah menunjukkan
kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) peserta didik secara nyata
penekanan penilaian otentik adalah pada penilaian yang tidak hanya mengacu pada
hasil akan tetapi penilaian pada proses, bagaimana peserta didik memperoleh dan
memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Indikator Berpikir Kreatif
Munandar (2012) berpendapat untuk mengetahui
tingkat kekreatifan seseorang, perlu adanya penilaian terhadap kemampuan
berpikir kreatif. Berikut indikator penilaian berpikir kreatif beserta
perilakunya.
1.
Berpikir lancar (Fluency)
ü Menghasilkan
banyak gagasan/jawaban yang relevan
ü Arus
pemikiran lancar
2. Berpikir luwes (flexibility)
ü Menghasilkan
gagasan-gagasan yang beragam
ü Mampu
mengubah cara atau pendekatan
ü Arah pemikiran
yang berbeda
3. Berpikir orisinil (Originality)
ü Meberikan
jawaban yang tidak lazim
ü Memberikan
jawaban yang lain dari pada yang lain
ü Memberikan
jawaban yang jarang diberikan kebanyakan orang
4. Berpikir terperinci (elaboration)
ü Mengembangkan,
menambah, memperkaya suatu gagasan
ü Memperinci
detail-detail
ü Memperluas
suatu gagasan
Sintaks Inovasi yang saya buat
Materi
: Laju reaksi
Model : Contextual Teaching and Learning
Pertemuan : 1
Berdasarkan artikel diatas dan
inovasi sintaks yang telah saya buat apa komentar dan saran saudara/i terhadap
inovasi yang saya buat ? dan pada bagian sintaks yang manakah yang dapat menimbulkan
dampak berpikir kreatif siswa secara nyata ? dan efektifkah inovasi sintaks ini
jika langsung diterapkan dalam proses pembelajaran ?
No
|
Model Konvensional (Model Kontekstual)
|
No
|
Inovasi Sintaks Model Kontekstual
|
Dampak Berpikir Kreatif
|
1.
|
Konstruktivisme
|
1.
|
Konstruktivisme
|
|
Mengkondisikan siswa
|
Mengkondisikan siswa
|
|||
Menyampaikan
tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai
|
Menyampaikan
tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai
|
|||
Mengajukan
pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya
|
Mengajukan
pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya
|
|||
Menggali
pengetahuan dasar siswa
|
Menggali
pengetahuan dasar siswa tentang materi laju reaksi dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memotivasi
siswa agar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mengajak siswa untuk
mengkonstruksi pengetahuan yang ada dalam pikiran mereka. “pernahkah kalian
membakar kayu?” mengapa serpihan kayu terbakar lebih cepat dibandingkan
dengan balok kayu?”
|
Memiliki
gagasan yang bervariasi (aspek berpikir luwes)
|
||
“Apakah
keterkaitan persoalan yang diberikan dengan pembelajaran yang akan kita
pelajari?”
|
Menjawab persoalan berdasarkan sudut pandang yang
berbeda (berpikir luwes)
|
|||
Mendorong
siswa untuk membuat keterkaitan antara persoalan yang diajukan dengan materi
yang akan dipelajari (pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi)
|
Menjawab persoalan berdasarkan sudut
pandang yang berbeda (berpikir luwes)
|
|||
2.
|
Pemodelan
(Modelling)
|
2.
|
Pemodelan
(Modelling)
|
|
Mengarahkan
siswa untuk membentuk kelompok kecil
|
Membagi kelompok diskusi yang heterogen
|
|||
Mempersilahkan
untuk bergabung Bersama kelompoknya masing-masing
|
||||
Menyajikan media/video/fenomena yang berhubungan
dengan materi dan selanjutnya mengajukan pertanyaan
|
Mengarahkan siswa untuk membandingkan
dan menganalisis gambar atau fenomena yang disajikan. “melarutkan garam halus
dan gula pasir”
|
|||
Mengajukan pertanyaan “ Apakah
pendapat kalian berdasarkan demonstrasi yang telah dilakukan? Mengapa garam halus lebih cepat melarut dibandingkan
dengan gula pasir?”
|
Memiliki
gagasan yang bervariasi (aspek berpikir luwes)
|
|||
3.
|
Bertanya
(Questioning)
|
3.
|
Menemukan
(Inquiry)
|
|
Membimbing
siswa melakukan tanya jawab
|
Menginstruksikan siswa melalui gambar atau fenomena mengenai apa saja yang
harus mereka lakukan selama proses pembelajaran berlangsung terkait dengan faktor-faktor
yang mempengaruhi laju reaksi di depan kelas
|
Memperluas suatu gagasan siswa (aspek berpikir
terperinci)
|
||
Menginstruksikan siswa untuk melihat pengaruh luas permukaan terhadap
laju reaksi menggunakan bahan-bahan yang telah disiapkan dari rumah
|
Sehingga
siswa mampu menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (aspek berpikir lancar)
|
|||
Mendorong siswa untuk melakukan percobaan berdasarkan instruksi
|
||||
Mempersilahkan siswa melakukan observasi kembali dan mencatat hasil
pengamatannya dengan alat observasi yang telah disediakan sebelumnya
|
Menyelesaikan percobaan lebih
cepat dan cermat dibandingkan kelompok lain dan siswa mampu menghasilkan
banyak gagasan/jawaban yang relevan (aspek berpikir lancar)
|
|||
Memberikan kesempatan pada kelompok yang telah menyelesaikan percobaan untuk
menganalisis hasil pengamatannya secara individu
|
Aspek
berpikir teperinci
|
|||
4.
|
Menemukan
(Inquiry)
|
4.
|
Masyarakat Belajar (Learning Community)
|
|
Membimbing
siswa mencari tahu sendiri materi pelajaran dari berbagai sumber
|
Mengarahkan setiap
kelompok untuk mendiskusikan hasil pengamatan dengan
kelompoknya masing-masing
|
· Bekerja lebih cepat dan
melakukan banyak hal (aspek berpikir lancar)
· Mencetuskan banyak
gagasan, jawaban atau sarana dengan lancar dan tepat (aspek berpikir lancar)
· Memberikan gagasan yang
bervariasi (aspek berpikir luwes)
· Merumuskan masalah,
gagasan/ ide atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek berpikir
orisinil)
|
||
Mempersilahkan siswa untuk melaporkan hasil diskusinya dalam diskusi kelas secara
kreatif
|
· Mencetuskan banyak
gagasan, jawaban atau sarana dengan lancar dan tepat (aspek berpikir lancar)
· Memberikan gagasan yang
bervariasi (aspek berpikir luwes)
· Merumuskan masalah,
gagasan/ ide atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek berpikir
orisinil)
|
|||
Memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan
hasil diskusinya
|
· Memberikan pertanyaan dengan lancar pada kelompok yang melakukan
persentasi (aspek
berpikir lancar)
· Mengembangkan dan
memperkaya gagasan-gagasan orang lain (aspek berpikir detail)
|
|||
Memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk menjawab
pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain
|
· Menjawab
pertanyaan yang diajukan secara lancar dan benar terhadap jawaban yang
diberikan (aspek
berpikir lancar)
· Berpartisipasi aktif dengan memberikan argumen atau pendapat yang
dimilikinya (aspek
berpikir orisinil)
· Memberikan sanggahan atau saran yang sesuai
dengan persoalan yang sedang dibahas (aspek berpikir luwes)
|
|||
5.
|
Masyarakat Belajar (Learning Community)
|
5.
|
Bertanya
(Questioning)
|
|
Membantu
siswa megatasi permasalahan yang diberikan
|
Mendorong siswa mengajukan
pertanyaan terkait materi yang belum dimengerti siswa
|
· Mengembangkan
atau memperkaya gagasan orang lain (aspek berpikir detail)
· Merumuskan
masalah atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek berpikir
orisinil)
|
||
Memberikan
kesempatan tanya jawab seputar hasil diskusi
|
Mendorong siswa lain untuk
menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh temannya
|
· Memberikan jawaban dari sudut pandang yang
berbeda (aspek berpikir
luwes)
· Memberikan jawaban berdasarkan hasil pemikirannya
sediri (aspek berpikir
orisinil)
|
||
Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan
|
Memberikan gagasan bervariasi (aspek berpikir
luwes)
|
|||
6.
|
Refleksi
(Reflection)
|
6.
|
Refleksi
(Reflection)
|
|
Memberikan penguatan
|
Mengarahkan siswa untuk melakukan
refleksi diri melalui self-evaluation terhadap
proses pembelajaran yang telah mereka lakukan dan meminta siswa
membuat suatu ringkasan
|
· Memberikan
gagasan bervariasi (aspek berpikir luwes)
· Membuat
laporan dengan detail dan berbeda dengan yang lain (aspek berpikir detail)
|
||
Membimbing siswa untuk membuat ringkasan
|
||||
7.
|
Penilaian
yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
|
7.
|
Penilaian
yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
|
|
Membantu siswa menyimpulkan
|
Memberikan
tes akhir atau posttest dari materi
yang telah diajarkan
|
Menghasilkan
banyak gagasan atau jawaban yang relevan (aspek berpikir lancar)
|
||
Memberikan tes akhir
|
Mengakhiri pembelajaran
dengan memberikan pesan dan motivasi untuk tetap belajar
|
|||
Menutup pertemuan dengan
berdo’a dan mengucapkan salam
|

menurut saya bagian sintaks yang lebih menekankan pada keterampilan berpikir kreatif adalah inkuiri dimana Menurut Trianto (2009) inkuiri ini merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Silklus inkuiri menurut Yatim Riyanto (2010) terdiri dari:
BalasHapusa) Observasi
b) Bertanya
c) Mengajukan dugaan (hipotesis)
d) Pengumpulan data
e) Penyimpulan
Penerapan asas ini dalam proses pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan, dengan demikian siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Masalah yang telah dipahami dengan jelas, kemudian dibuat batasan-batasan yang selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara. Hipotesis tersebutlah yang akan menuntun siswa melakukan observasi dalam rangka pengumpulan data. Manakala data sudah terkumpul, maka siswa dituntun untuk menguji hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan.
Berdasarkan paparan yang telah dijelaskan kak rina mengenai inkuiri, bagaimana dengan inovasi sintaks yang telah saya buat, apakah sudah bisa dikatakan sesuai dengan teori yang diminta sintaks inkuiri yang telah saya inovasi ?
Hapusmenurut saya inovasi dari sintaks yang Anda buat sudah dapat diterapkan dalam pembelajaran dan bisa menjadi salah satu model yang dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.
Hapusbaik sedikit tambahan pendapat untuk pertanyaan rini, apakah pada tahap inkuiri yang rini inovasi sesuai dengan teori, menurut saya sudah sesuai dan bisa diterap namun jika ingin memunculkan kemampuan berpikir kreatif siswa maka, siswa harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mencari referensi, literatur, unutk memperkaya gagasan yang dimilikinya serta mendukung apa yang akan dilakukannya dalam pembelajaran apakah itu observasi maupun percobaan sederhana sehingga informasi/gagasan yang dimiliki siswa benar-benar relevan dan benar-benar orisinil dari hasil pemikiran siswa itu sendiri
Hapustambahan dari pendapat kk rini, disini rini bisa menambahkan LKPD sebagai landasan anak untuk membuat tugas yang diberikan dari guru
HapusSaya sependapat dmegan saudari tri untuk membuat LKPD, di lkpd di usahakan byk di kosongkan dan juga kasih beberapa permasalahn yang sesuai dengan fenomena2 sehari-hari agar membantu siswa bepikir kreatif.
HapusMenurut saya sintaks CTL diatas sudah cukup efektif untuk diterapkan, karena mengandung keseluruhan komponen CTL. Sintaks nya pun dapat menimbulkan pola berpikir kreatif karena adanya diskusi dan perintah untuk mengamati. Melalui sintaks inkuiri siswa dapat menimbulkan gagasan bervariasi pada masing-masing individu karena pembelajaran yang menarik itu dapat membuat masing-masing siswa memiliki pendapat berbeda. Lalu pada bagian akhir juga ada proses self reflection tentu ini sangat bermanfaat untuk mengingat materi apa yang dirasa kurang dikuasai dan proses menyimpulkan siswa juga berguna dalam memperkuat pengetahuan siswa mengenai materi yang diajarkan.
BalasHapusSaya setuju dengan kk fanny bahwa inovasi model inu sudah bisa di Terapkan dlm proses pembelajaran. Dan ckup efektif jika di terapkan.
HapusSaran saya adalah untuk menambahkan suatu ide langkah baru dalam menjalankan suatu proses pembelajaran. Sehingga pada sintaks2 model CTL ini lebih baik lagi dan bervariasi.
Menurut pendapat dian,menambahkan suatu ide langkah baru disini maksud nya dengan menambah sintaks pada model CTL atau bagaimana ?
Hapusmenurut pendapat saya inovasi sintak CTL yang dibuat rini sudah baik dan jika ingin di terapkan dalam proses pembelajaran juga kemungkinan bisa dilakukan karena dari aspek pendukung seperti penyediaan alat dan bahan untuk percobaan mudah untuk dipenuhi hanya saja yang perlu menjadi perhatian yaitu kondisi siswa pada saat akan melaksanakan proses pembelajaran. pembelajaran haruslah menyenangkan dan dapat memberi kesan baik pada pengalaman siswa karena hal ini menjadi poin utama pada model pembelajran CTL ini.
BalasHapusSaya setuju dengan pendapat fira bahwa inovasi sintak CTL sudah baik dan bisa diterapkan karena adanya aspek pendukung dan mengandung keseluruhan komponen namun juga perlu dilihat kondisi suasana siswa pada proses pembelajaran
Hapusmenurut pendapat saya inovasi sintak CTL yang dibuat rini sudah baik. dan sintaks yang dapat menimbulkan sikap kreatif siswa yaitu pada langkah inquiry dan masyarakat belajar dan juga modeling. kegiatan guru yang dapat memunculkan ide kreatif siswa diantaranya bertanya.
BalasHapussependapat dengan esa, bahwa inovasi sintak CTL yang dibuat rini sudah baik. dan sintaks yang dapat menimbulkan sikap kreatif siswa yaitu pada langkah inquiry dan masyarakat belajar dan juga modeling. kegiatan guru yang dapat memunculkan ide kreatif siswa diantaranya adalah pada sesi bertanya.
Hapusinovasi yang dibuat rini sudah baik mengikuti sintak CTL yng sebenarnya, namun dengan menambah sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. dengan memberikan kesempatan kesempatan kepada siswa seluas-luasnya untuk mencari sumber. sehinga kemampuan berfikir kreatif siswa dapat tumbuh. pada model CTL pada tahapan inkuiri merupakan merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.
BalasHapusMenurut saya sintak pembelajaran inovasi yang rini buat sudah bisa diterapkan, bisa untuk diujicobakan, namun kefektifannya bisa diketahui setelah diujicobakan
BalasHapus
BalasHapusBerdasarkan artikel diatas dan inovasi sintaks yang telah saya buat apa komentar dan saran saudara/i terhadap inovasi yang saya buat ?
Secara teori sudah cukup bagus,
Sarannya ya sangat perlu diperhatikan tahapan mana yg sangat menyumbngkan/ melahirkan kretifitas siswanya.
Bet365 Casino: Review - Sportsbetting in South Korea happyluke happyluke 온라인카지노 온라인카지노 907No Deposit Bonus Casino Bonuses For USA 2021
BalasHapus