Langsung ke konten utama

Materi 11

Persentasi Inovasi Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual dan Dampaknya terhadap Kemampuan Berpikir kreatif

Konsep Dasar Pembelajaran Kontekstual
Nurhadi dalam Rusman (2014) mengatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Untuk memperkuat dimilikinya pengalaman belajar yang aplikatif bagi siswa, tentu saja diperlukan pembelajaran yang lebih banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan, mencoba, dan mengalami sendiri (learning to do), dan bahkan sekedar pendengar yang pasif sebagaimana penerima terhadap semua informasi yang disampaikan guru.
Sintaks Model Pembelajaran Kontekstual
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apapun, bidang studi apapun, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Model pembelajaran CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkah-langkah yang harus ditempuh dalam CTL adalah sebagai berikut:
Fase 1
Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai siswa serta manfaatnya dari proses pembelajaran serta pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari. Guru menggali pengetahuan awal siswa serta menganalisis miskonsepsi siswa (Konstruktivism).
Fase 2
Siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil.Guru menyajikan model atau fenomena dan setiap kelompok diberi tugas untuk melakukan observasi. Melalui observasi yang dilakukan, siswa ditugaskan diminta untuk menyampaikan gagasan yang dimilikinya terkait dengan materi yang dipelajari dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan guru (Modelling).
Fase 3
Guru melakukan tanya jawab seputar tugas yang harus dilakukan oleh setiap kelompok siswa guna mencapai tujuan pembelajaran (Questioning).
Fase 4
Siswa melakukan observasi dan mencatat hasil observasinya dengan menggunakan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya. Siswa menganalisis hasil observasinya (Inquiry).
Fase 5
Siswa mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompok masing-masing. Masing-masing kelompok melaporkan hasil diskusinya dalam pleno kelas. Setiap kelompok menjawab pertanyaan yang diajukan kelompok lainnya (Learning Community).
Fase 6
Dengan bantuan guru, siswa menyimpulkan hasil observasinya. Simpulan tersebut merupakan pengetahuan atau keterampilan baru yang diperoleh dalam proses pembelajaran melalui penemuan.
Fase 7
Guru melakukan penilaian autentik dan memberi tugas kepada siswa untuk meningkatkan pemahaman, memperluas dan memperdalam pengetahuan berkaitan dengan topik yang telah dipelajari. Siswa juga melakukan refleksi diri (Authentic assessment).
Komponen Utama Model Pembelajaran Kontestual
Menurut Trianto (2014) pembelajaran kontekstual melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif yaitu, Constructivism (konstruktivisme), Inquiry (menemukan) , Questioning (bertanya), Learning Community (masyarakat belajar), Modeling (pemodelan), Reflection (refleksi) dan Authentic Assessment (penilaian yang sebenarnya).
1. Konstruktivisme (Constructivism)
Konstruktivistik merupakan landasan pendekatan kontekstual. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dalam kontruktivistik, strategi lebih diutamakan dibanding seberapa banyak peserta didik memperoleh dan mengingat pengetahuan. Dalam kontruktivis, lebih diutamakan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Untuk itu tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara:
a)     Menjadikan pengetahuan bermakna bagi siswa
b)     Memberikan kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri
c)      Menyadarkan siswa menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
2. Pemodelan (Modelling)
Dalam suatu pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru siswa, misalnya cara mengoperasikan suatu mesin, guru mendatangkan ahlinya kesekolah agar peserta didik dapat menirunya dan lain seba gainya. Pembelajaran kontekstual guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dirancang dengan melibatkan siswa. Model juga dapat didatangkan dari luar yang ahli dibidangnya.
3. Bertanya (questioning)
Bertanya adalah induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan dan aspek penting dari pembelajaran. Guru menggunakan questioning (bertanya) untuk menuntun siswa berpikir bukannya penjejalan berbagai informasi penting yang harus dipelajari siswa. Bertanya digunakan sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Inti dari penerapan bertanya (questioning):
a)  Mendorong siswa untuk mengetahui sesuatu
b)  Mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi
c)   Melatih siswa untuk berpikir kritis
4. Menemukan (inquiry)
Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh peserta didik diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil menemukan sendiri. Guru harus merancang suatu pembelajaran dalam bentuk kegiatan nememukan (inquiri) dalam bentuk apapun materinya yang diajarkan. Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan dari hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Siklus inquiry:
a)  Observasi (Observation)
b)  Bertanya (Questioning)
c)   Mengajukan dugaan (Hipotesis)
d)  Pengumpulan data (Data gathering)
e)  Penyimpulan (Conclussion)
5. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Masyarakat belajar artinya bahwa seseorang kaya dengan pengetahuan dan pengalaman tatkala mereka banyak belajar dari orang lain, dalam masyarakat belajar hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerja sama dengan orang lain dengan sharring antar teman, antar kelompok dan mereka yang tahu ke yang belum tahu.Masyarakat belajar dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok yang anggotanya bersifat heterogen, baik dilihat dari kemampuan maupun bakat dan minatnya. Praktik dalam pembelajaran ”masyarakat belajar” terwujud dalam:
a)  Pembentukan kelompok kecil
b)  Pembentukan kelompok besar
c) Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh, olahragawan, dokter, budayawan, petani, perawat, polisi, dll)
d)  Bekerja dengan kelas sederajat
e)  Bekerja kelompok dengan kelas yang diatasnya
f)   Bekerja dengan masyarakat
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi merupakan guru/pelajar menghubungkan antara pengetahuan peserta didik yang telah dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru diterima. Pada akhir pembelajaran, pembelajar menyisakan waktu sejenak agar peserta didik melakukan refleksi, berupa pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari ini, catatan atau jurnal dari buku peserta didik, kesan dan saran peserta didik mengenai pembelajaran hari itu.
7. Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)
Prosedur penilaian otentik adalah menunjukkan kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) peserta didik secara nyata penekanan penilaian otentik adalah pada penilaian yang tidak hanya mengacu pada hasil akan tetapi penilaian pada proses, bagaimana peserta didik memperoleh dan memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Indikator Berpikir Kreatif
Munandar (2012) berpendapat untuk mengetahui tingkat kekreatifan seseorang, perlu adanya penilaian terhadap kemampuan berpikir kreatif. Berikut indikator penilaian berpikir kreatif beserta perilakunya.
1. Berpikir lancar (Fluency)
ü  Menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan
ü  Arus pemikiran lancar
2. Berpikir luwes (flexibility)
ü  Menghasilkan gagasan-gagasan yang beragam
ü  Mampu mengubah cara atau pendekatan
ü  Arah pemikiran yang berbeda
3. Berpikir orisinil (Originality)
ü  Meberikan jawaban yang tidak lazim
ü  Memberikan jawaban yang lain dari pada yang lain
ü  Memberikan jawaban yang jarang diberikan kebanyakan orang
4. Berpikir terperinci (elaboration)
ü  Mengembangkan, menambah, memperkaya suatu gagasan
ü  Memperinci detail-detail
ü  Memperluas suatu gagasan
Sintaks Inovasi yang saya buat
Materi             : Laju reaksi
Model              : Contextual Teaching and Learning
Pertemuan     : 1
No
Model Konvensional (Model Kontekstual)
No
Inovasi Sintaks Model Kontekstual
Dampak Berpikir Kreatif
1.
Konstruktivisme
1.
Konstruktivisme

Mengkondisikan siswa
Mengkondisikan siswa

Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai
Menyampaikan tujuan pembelajaran dan kompetensi yang harus dicapai

Mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya
Mengajukan pertanyaan tentang materi pelajaran sebelumnya

Menggali pengetahuan dasar siswa
Menggali pengetahuan dasar siswa tentang materi laju reaksi dan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang memotivasi siswa agar memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan mengajak siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan yang ada dalam pikiran mereka. “pernahkah kalian membakar kayu?” mengapa serpihan kayu terbakar lebih cepat dibandingkan dengan balok kayu?”
Memiliki gagasan yang bervariasi (aspek berpikir luwes)
“Apakah keterkaitan persoalan yang diberikan dengan pembelajaran yang akan kita pelajari?”
Menjawab persoalan berdasarkan sudut pandang yang berbeda (berpikir luwes)
Mendorong siswa untuk membuat keterkaitan antara persoalan yang diajukan dengan materi yang akan dipelajari (pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi)
Menjawab persoalan berdasarkan sudut pandang yang berbeda (berpikir luwes)
2.
Pemodelan (Modelling)
2.
Pemodelan (Modelling)

Mengarahkan siswa untuk membentuk kelompok kecil
Membagi kelompok diskusi yang heterogen


Mempersilahkan untuk bergabung Bersama kelompoknya masing-masing

Menyajikan media/video/fenomena yang berhubungan dengan materi dan selanjutnya mengajukan pertanyaan
Mengarahkan siswa untuk membandingkan dan menganalisis gambar atau fenomena yang disajikan. “melarutkan garam halus dan gula pasir”


Mengajukan pertanyaan “ Apakah pendapat kalian berdasarkan demonstrasi yang telah dilakukan? Mengapa  garam halus lebih cepat melarut dibandingkan dengan gula pasir?”
Memiliki gagasan yang bervariasi (aspek berpikir luwes)
3.
Bertanya (Questioning)
3.
Menemukan (Inquiry)

Membimbing siswa melakukan tanya jawab
Menginstruksikan siswa melalui gambar atau fenomena mengenai apa saja yang harus mereka lakukan selama proses pembelajaran berlangsung terkait dengan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi di depan kelas
Memperluas suatu gagasan siswa (aspek berpikir terperinci)
Menginstruksikan siswa untuk melihat pengaruh luas permukaan terhadap laju reaksi menggunakan bahan-bahan yang telah disiapkan dari rumah
Sehingga siswa mampu menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (aspek berpikir lancar)
Mendorong siswa untuk melakukan percobaan berdasarkan instruksi

Mempersilahkan siswa melakukan observasi kembali dan mencatat hasil pengamatannya dengan alat observasi yang telah disediakan sebelumnya
Menyelesaikan percobaan lebih cepat dan cermat dibandingkan kelompok lain dan siswa mampu menghasilkan banyak gagasan/jawaban yang relevan (aspek berpikir lancar)
Memberikan kesempatan pada kelompok yang telah menyelesaikan percobaan untuk menganalisis hasil pengamatannya secara individu
Aspek berpikir teperinci
4.
Menemukan (Inquiry)
4.
Masyarakat Belajar (Learning Community)

Membimbing siswa mencari tahu sendiri materi pelajaran dari berbagai sumber
Mengarahkan setiap kelompok untuk mendiskusikan hasil pengamatan dengan kelompoknya masing-masing
·      Bekerja lebih cepat dan melakukan banyak hal (aspek berpikir lancar)
·      Mencetuskan banyak gagasan, jawaban atau sarana dengan lancar dan tepat (aspek berpikir lancar)
·      Memberikan gagasan yang bervariasi (aspek  berpikir luwes)
·      Merumuskan masalah, gagasan/ ide atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek berpikir orisinil)
Mempersilahkan siswa untuk melaporkan hasil diskusinya dalam diskusi kelas secara kreatif
·    Mencetuskan banyak gagasan, jawaban atau sarana dengan lancar dan tepat (aspek berpikir lancar)
·    Memberikan gagasan yang bervariasi (aspek berpikir luwes)
·    Merumuskan masalah, gagasan/ ide atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek berpikir orisinil)
Memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusinya
·   Memberikan pertanyaan dengan lancar pada kelompok yang melakukan persentasi (aspek berpikir lancar)
·   Mengembangkan dan memperkaya gagasan-gagasan orang lain (aspek berpikir detail)
Memberikan kesempatan pada masing-masing kelompok untuk menjawab pertanyaan yang diajukan oleh kelompok lain
·   Menjawab pertanyaan yang diajukan secara lancar dan benar terhadap jawaban yang diberikan (aspek berpikir lancar)
·   Berpartisipasi aktif dengan memberikan argumen atau pendapat yang dimilikinya (aspek berpikir orisinil)
·   Memberikan sanggahan atau saran yang sesuai dengan persoalan yang sedang dibahas (aspek berpikir luwes)
5.
Masyarakat Belajar (Learning Community)
5.
Bertanya (Questioning)

Membantu siswa megatasi permasalahan yang diberikan
Mendorong siswa mengajukan pertanyaan terkait materi yang belum dimengerti siswa
·    Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain (aspek berpikir detail)
·    Merumuskan masalah atau hal-hal belum terfikirkan oleh orang lain (aspek berpikir orisinil)
Memberikan kesempatan tanya jawab seputar hasil diskusi
Mendorong siswa lain untuk menanggapi pertanyaan yang diberikan oleh temannya
·   Memberikan jawaban dari sudut pandang yang berbeda (aspek berpikir luwes)
·   Memberikan jawaban berdasarkan hasil pemikirannya sediri (aspek berpikir orisinil)
Mengarahkan siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan pembelajaran yang telah dilakukan
Memberikan gagasan bervariasi (aspek berpikir luwes)
6.
Refleksi (Reflection)
6.
Refleksi (Reflection)

Memberikan penguatan
Mengarahkan siswa untuk melakukan refleksi diri melalui self-evaluation terhadap proses pembelajaran yang telah mereka lakukan dan meminta siswa membuat suatu ringkasan
· Memberikan gagasan bervariasi (aspek berpikir luwes)
· Membuat laporan dengan detail dan berbeda dengan yang lain (aspek berpikir detail)
Membimbing siswa untuk membuat ringkasan
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)
7.
Penilaian yang Sebenarnya (Authentic Assessment)

Membantu siswa menyimpulkan
Memberikan tes akhir atau posttest dari materi yang telah diajarkan
Menghasilkan banyak gagasan atau jawaban yang relevan (aspek berpikir lancar)
Memberikan tes akhir
Mengakhiri pembelajaran dengan memberikan pesan dan motivasi untuk tetap belajar

Menutup pertemuan dengan berdo’a dan mengucapkan salam

Berdasarkan artikel diatas dan inovasi sintaks yang telah saya buat apa komentar dan saran saudara/i terhadap inovasi yang saya buat ? dan pada bagian sintaks yang manakah yang dapat menimbulkan dampak berpikir kreatif siswa secara nyata ? dan efektifkah inovasi sintaks ini jika langsung diterapkan dalam proses pembelajaran ?

Komentar

  1. menurut saya bagian sintaks yang lebih menekankan pada keterampilan berpikir kreatif adalah inkuiri dimana Menurut Trianto (2009) inkuiri ini merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkannya. Silklus inkuiri menurut Yatim Riyanto (2010) terdiri dari:
    a) Observasi
    b) Bertanya
    c) Mengajukan dugaan (hipotesis)
    d) Pengumpulan data
    e) Penyimpulan
    Penerapan asas ini dalam proses pembelajaran CTL, dimulai dari adanya kesadaran siswa akan masalah yang jelas yang ingin dipecahkan, dengan demikian siswa harus didorong untuk menemukan masalah. Masalah yang telah dipahami dengan jelas, kemudian dibuat batasan-batasan yang selanjutnya siswa dapat mengajukan hipotesis atau jawaban sementara. Hipotesis tersebutlah yang akan menuntun siswa melakukan observasi dalam rangka pengumpulan data. Manakala data sudah terkumpul, maka siswa dituntun untuk menguji hipotesis sebagai dasar dalam merumuskan kesimpulan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berdasarkan paparan yang telah dijelaskan kak rina mengenai inkuiri, bagaimana dengan inovasi sintaks yang telah saya buat, apakah sudah bisa dikatakan sesuai dengan teori yang diminta sintaks inkuiri yang telah saya inovasi ?

      Hapus
    2. menurut saya inovasi dari sintaks yang Anda buat sudah dapat diterapkan dalam pembelajaran dan bisa menjadi salah satu model yang dapat membantu meningkatkan kemampuan berpikir kreatif siswa.

      Hapus
    3. baik sedikit tambahan pendapat untuk pertanyaan rini, apakah pada tahap inkuiri yang rini inovasi sesuai dengan teori, menurut saya sudah sesuai dan bisa diterap namun jika ingin memunculkan kemampuan berpikir kreatif siswa maka, siswa harus diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mencari referensi, literatur, unutk memperkaya gagasan yang dimilikinya serta mendukung apa yang akan dilakukannya dalam pembelajaran apakah itu observasi maupun percobaan sederhana sehingga informasi/gagasan yang dimiliki siswa benar-benar relevan dan benar-benar orisinil dari hasil pemikiran siswa itu sendiri

      Hapus
    4. tambahan dari pendapat kk rini, disini rini bisa menambahkan LKPD sebagai landasan anak untuk membuat tugas yang diberikan dari guru

      Hapus
    5. Saya sependapat dmegan saudari tri untuk membuat LKPD, di lkpd di usahakan byk di kosongkan dan juga kasih beberapa permasalahn yang sesuai dengan fenomena2 sehari-hari agar membantu siswa bepikir kreatif.

      Hapus
  2. Menurut saya sintaks CTL diatas sudah cukup efektif untuk diterapkan, karena mengandung keseluruhan komponen CTL. Sintaks nya pun dapat menimbulkan pola berpikir kreatif karena adanya diskusi dan perintah untuk mengamati. Melalui sintaks inkuiri siswa dapat menimbulkan gagasan bervariasi pada masing-masing individu karena pembelajaran yang menarik itu dapat membuat masing-masing siswa memiliki pendapat berbeda. Lalu pada bagian akhir juga ada proses self reflection tentu ini sangat bermanfaat untuk mengingat materi apa yang dirasa kurang dikuasai dan proses menyimpulkan siswa juga berguna dalam memperkuat pengetahuan siswa mengenai materi yang diajarkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan kk fanny bahwa inovasi model inu sudah bisa di Terapkan dlm proses pembelajaran. Dan ckup efektif jika di terapkan.
      Saran saya adalah untuk menambahkan suatu ide langkah baru dalam menjalankan suatu proses pembelajaran. Sehingga pada sintaks2 model CTL ini lebih baik lagi dan bervariasi.

      Hapus
    2. Menurut pendapat dian,menambahkan suatu ide langkah baru disini maksud nya dengan menambah sintaks pada model CTL atau bagaimana ?

      Hapus
  3. menurut pendapat saya inovasi sintak CTL yang dibuat rini sudah baik dan jika ingin di terapkan dalam proses pembelajaran juga kemungkinan bisa dilakukan karena dari aspek pendukung seperti penyediaan alat dan bahan untuk percobaan mudah untuk dipenuhi hanya saja yang perlu menjadi perhatian yaitu kondisi siswa pada saat akan melaksanakan proses pembelajaran. pembelajaran haruslah menyenangkan dan dapat memberi kesan baik pada pengalaman siswa karena hal ini menjadi poin utama pada model pembelajran CTL ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya setuju dengan pendapat fira bahwa inovasi sintak CTL sudah baik dan bisa diterapkan karena adanya aspek pendukung dan mengandung keseluruhan komponen namun juga perlu dilihat kondisi suasana siswa pada proses pembelajaran

      Hapus
  4. menurut pendapat saya inovasi sintak CTL yang dibuat rini sudah baik. dan sintaks yang dapat menimbulkan sikap kreatif siswa yaitu pada langkah inquiry dan masyarakat belajar dan juga modeling. kegiatan guru yang dapat memunculkan ide kreatif siswa diantaranya bertanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sependapat dengan esa, bahwa inovasi sintak CTL yang dibuat rini sudah baik. dan sintaks yang dapat menimbulkan sikap kreatif siswa yaitu pada langkah inquiry dan masyarakat belajar dan juga modeling. kegiatan guru yang dapat memunculkan ide kreatif siswa diantaranya adalah pada sesi bertanya.

      Hapus
  5. inovasi yang dibuat rini sudah baik mengikuti sintak CTL yng sebenarnya, namun dengan menambah sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. dengan memberikan kesempatan kesempatan kepada siswa seluas-luasnya untuk mencari sumber. sehinga kemampuan berfikir kreatif siswa dapat tumbuh. pada model CTL pada tahapan inkuiri merupakan merupakan bagian inti kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual.

    BalasHapus
  6. Menurut saya sintak pembelajaran inovasi yang rini buat sudah bisa diterapkan, bisa untuk diujicobakan, namun kefektifannya bisa diketahui setelah diujicobakan

    BalasHapus

  7. Berdasarkan artikel diatas dan inovasi sintaks yang telah saya buat apa komentar dan saran saudara/i terhadap inovasi yang saya buat ?
    Secara teori sudah cukup bagus,
    Sarannya ya sangat perlu diperhatikan tahapan mana yg sangat menyumbngkan/ melahirkan kretifitas siswanya.

    BalasHapus
  8. Bet365 Casino: Review - Sportsbetting in South Korea happyluke happyluke 온라인카지노 온라인카지노 907No Deposit Bonus Casino Bonuses For USA 2021

    BalasHapus

Posting Komentar